loading...
Mau Punya Penghasilan 250ribu/Minggu Klik DISINI

Cerita Rakyat - Roro Mendut Dan Panacitra

Dulu, pada pesisir pantai utara Pulau Jawa, tepatnya pada daerah Pati, Jawa Tengah, tersebutlah salah satu desa nelayan dengan nama Teluk Cikal. Desa tersebut termasuk ke dalam wilayah Kadipaten Pati yang diperintah sama Adipati Pragolo II. Kadipaten Pati sendiri adalah salah satu wilayah taklukan dari Kesultanan Mataram yang dipimpin sama Sultan Agung.
Di Teluk Cikal, hidup satu orang gadis anak nelayan punya nama Rara Mendut. Dia salah satu gadis yang cantik serta rupawan. Rara Mendut pun dikenal jadi seorang gadis yang teguh pendirian. Dia tak sungkan-sungkan menolak para lelaki yang datang melamarnya karena dia telah mempunyai calon suami, yaitu satu orang pemuda desa yang tampan dengan nama Pranacitra, putra Nyai Singabarong, salah satu saudagar kaya-raya.
Suatu ketika, berita mengenai kecantikan serta kemolekan Rara Mendut terdengar oleh Adipati Pragolo II. Penguasa Kadipaten Pati tersebut pun bermaksud menjadikannya jadi selir. Sudah berkali-kali dia membujuknya, akan tetapi Rara Mendut tetap menolak. Merasa dikecewakan, Adipati Pragolo II menyuruh beberapa pengawalnya buat menculik Rara Mendut.
Hari itulah, saat Rara Mendut lagi asyik menjemur ikan di pantai seorang diri, datanglah suruhan Adipati Progolo.
Ayo gadis cantik, ikut kami menuju keraton! seru para pengawal tersebut sambil menarik kedua tangan Rara Mendut dengan kasar.
Lepaskan, aku! teriak Rara Mendut seraya meronta-ronta, Aku tak mau jadi selir Adipati Pragolo. Aku telah memiliki kekasih!
Para pengawal tersebut tak peduli dengan rengekan Rara Mendut. Mereka terus-menerus menyeret gadis tersebut naik ke kuda kemudian membawanya menuju keraton. Jadi calon selir, Rara Mendut dipingit berada di dalam Puri Kadipaten Pati di bawah asuhan salah satu dayang bernama Ni Semangka dengan dibantu sama salah satu dayang yang lebih muda dengan nama Genduk Duku.
Sementara Rara Mendut dalam masa pingitan, di Kadipaten Pati lagi berlangsung gejolak. Sultan Agung menuding Adipati Pragolo II menjadi pemberontak dikarenakan tak mau membayar upeti terhadap Kesultanan Mataram. Sultan Agung pun memimpin langsung penyerangan menuju Kadipaten Pati.
Menurut cerita, Sultan Agung tak bisa melukai Adipati Pragolo II dikarenakan penguasa Pati tersebut mengenakan kere waja (baju zirah) yang tak mempan senjata apapun. Melihat hal tersebut, abdi pemegang payung sang Sultan yang punya nama Ki Nayadarma kemudian berkata,
Ampun, Gusti Prabu. Perkenankanlah hamba yang melawan Adipati Pragolo! pinta Ki Nayadarma sambil memberi sembah.
Baiklah, Abdiku. Gunakanlah tombak Baru Klinting ini! kata sang Sultan.
Berbekal tombak pusaka Baru Klinting, Ki Nayadarma lantas menyerang Adipati Pragolo II. Akan tetapi, serangannya masih mampu ditepis sama Adipati Pragolo II. Saat Adipati tersebut lengah, Ki Nayadarma dengan cepat menikamkan pusaka Baru Klinting sampai bagian tubuh sang Adipati yang tak terlindungi sama baju zirah. Adipati Pragolo II pun meninggal seketika.
Sementara itu, para prajurit yang dikomandani panglima perang Mataram, Tumenggung Wiraguna, lekas merampas harta kekayaan Kadipaten Pati, termasuk Rara Mendut. Tumenggung Wiraguna lantas terpesona tatkala memandang kecantikan Rara Mendut. Dia pun memboyong Rara Mendut menuju Mataram buat dijadikan selirnya.
Tumenggung Wiraguna berkali-kali merayu Rara Mendut guna dijadikan selir, akan tetapi selalu ditolak. Sampai-sampai, di hadapan panglima tersebut, dirinya berani terang-terangan menerangkan bahwa dirinya sudah mempunyai kekasih dengan nama Pranacitra. Sikap Rara Mendut yang keras kepala tersebut membikin Tumenggung Wiraguna murka.
Baiklah, Rara Mendut. Jikalau kamu tak ingin jadi selirku, maka untuk gantinya kamu wajib membayar pajak terhadap Mataram! ancam Tumenggung Wiraguna.
Rara Mendut tak gentar mendengar ancaman tersebut. Ia lebih memilih membayar pajak daripada mesti jadi selir Tumenggung Wiraguna. Oleh karena masih dalam pengawasan prajurit Mataram, Rara Mendut lalu meminta izin buat berdagang rokok di pasar. Tumenggung Wiraguna pun menyetujuinya. Rupanya, dagangan rokoknya laku keras, bahkan, orang pun beramai-ramai membeli puntung rokok bekas isapan Rara Mendut.
Satu hari, pada saat lagi berjualan di pasar, Rara Mendut berjumpa sama Pranacitra yang sengaja datang mencari kekasihnya tersebut. Pranacitra berupaya mencari jalan buat bisa melarikan Rara Mendut dari Mataram.
Setiba pada istana, Rara Mendut menerangkan tentang pertemuannya sama Pranacitra terhadap Putri Arumardi, salah seorang selir Wiraguna, dengan harapan bisa membantunya keluar dari istana. Rara Mendut mengetahui persis jikalau Putri Arumardi tak setuju jikalau Wiraguna menambah selir kembali.
Putri Arumardi serta selir Wiraguna lainnya yang dengan nama Nyai Ajeng menyusun siasat buat mengeluarkan Rara Mendut menuju luar dari istana. Bersama dengan Pranacitra, Rara Mendut berupaya buat kembali menuju kampung halamannya pada Kadipaten Pati.
Akan tetapi sungguh disayangkan, pelarian Rara Mendut sama Pranacitra diketahui sama Wiraguna. Pasangan tersebut akhirnya berhasil ditemukan sama para prajurit Wiraguna. Rara Mendut pun dibawa lagi menuju Mataram, sedangkan secara diam-diam, Wiraguna memerintah abdi kepercayaannya buat menghabisi nyawa Pranacitra. Alhasil, kekasih Rara Mendut tersebut tewas serta dikuburkan di salah satu hutan terpencil yang ada di Ceporan, Desa Gandhu, terletak kurang lebih 9 kilometer sebelah timur Kota Yogyakarta.
Sepeninggal Pranacitra, Tumenggung Wiraguna lagi-lagi merayu Rara Mendut supaya berkenan jadi selirnya. Akan tetapi, usahanya tetap sia-sia, gadis cantik tersebut tetap menolak. Sang Panglima pun tak kehabisan akal. Dia lalu menceritakan mengenai kematian Pranacitra terhadap Rara Mendut.
Sudahlah, Rara Mendut. Percuma saja kamu menikah sama Pranacitra, ujar Tumenggung Wiraguna.
Apa maksud, Tuan? tanya Rara Mendut tiba-tiba cemas.
Pemuda yang engkau kasihi tersebut telah tiada, jawab Tumenggung Wiraguna.
Kanda Pranacitra tiada? Ah, itu tak mungkin terjadi. Aku baru saja berjumpa dengannya kemarin, kata Rara Mendut tidak percaya.
Jika engkau tak percaya, ikutlah bersamaku, bakal kutunjukkan kuburnya, ujar Tumenggung Wiraguna.
Rara Mendut pun menurut buat membuktikan omongan Tumenggung Wiraguna. Betapa terkejutnya Rara Mendut ketika sampai pada tempat Pranacitra dikuburkan. Dia berteriak histeris pada hadapan makam kekasihnya.
Kanda, jangan tinggalkan Dinda! tangis Rara Mendut.
Sudahlah, Mendut! Tidak ada lagi gunanya meratapi orang yang telah mati, ujar Wiraguna, Ayo, kita tinggalkan tempat ini!
Rara Mendut kemudian bangkit lalu mengikuti Tumenggung Wiraguna seraya terus menangis. Belum jauh mereka meninggalkan tempat pemakaman tersebut, Rara Mendut kemudian murka serta mengancam berkenaan melaporkan perbuatan Wiraguna terhadap Raja Mataram, Sultan Agung.
Tuan jahat sekali. kelakuan Tuan bakal kulaporkan pada Raja Mataram supaya memperoleh hukuman yang setimpal! ancam Rara Mendut.
Seketika, Tumenggung Wiraguna jadi begitu marah. Dia lalu menarik tangan Rara Mendut buat dibawa pulang menuju rumahnya. Akan tetapi, gadis tersebut menolak serta meronta-ronta buat melepaskan diri. Begitu tangannya terlepas, dia menarik keris kepunyaan Tumenggung Wiraguna yang terselip pada pinggangnya. Rara Mendut lalu berlari menuju makam kekasihnya. Panglima itu pun berupaya mengejarnya.
Berhenti, Mendut! teriaknya.
Setiba pada makam Pranacitra, Rara Mendut berniat buat bunuh diri.
Jangan, Mendut! Jangan lakukan itu! teriak Tumenggung Wiraguna yang baru saja sampai.
Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Rara Mendut sudah menikam perutnya dengan keris yang dibawanya. Tubuhnya pun lantas roboh selanjutnya tewas di samping makam kekasihnya. Melihat peristiwa tersebut, Tumenggung Wiraguna merasa amat menyesal atas perbuatannya.
Oh, Tuhan. Sekiranya aku tak memaksanya jadi selirku, tentu Rara Mendut tak bakal nekad bunuh diri, sesal Tumenggung Wiraguna.
Penyesalan tersebut tidak ada gunanya dikarenakan semuanya telah terjadi. Buat menebus kesalahannya, Tumenggung Wiraguna memakamkan Rara Mendut satu liang sama Pranacitra. Begitulah cerita perjuangan Rara Mendut untuk mempertahankan harga diri serta kesetiaannya.