loading...
Mau Punya Penghasilan 250ribu/Minggu Klik DISINI

CERITA SUNAN KALIJAGA

B.Cerita Rakyat Makam Sunan Kalijaga

B.1 Asal Usul Sunan Kalijaga


Raden Mas Syahid yang bergelar ”Sunan Kalijaga” adalah putera dari Ki Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban) dengan Dewi Sukati. Raden Syahid merupakan putera pertama yang lahir tahun 1455 dan beliau memiliki seorang adik bernama Dewi Rosowulan yang menikah dengan Empu Supo dan memiliki 2 orang anak yakni Joko Tarub dan Supo Nem.


Istri pertama Raden Syahid (Sunan Kalijaga) bernama Dewi Saroh binti Maulana Ishak, Sunan Kalijaga memperoleh 3 orang putera, masing-masing ialah :
1.Raden Umar Said (Sunan Muria).
2.Dewi Ruqayyah.
3.Dewi Sofiyah.
Ada cerita lain yang disebut di dalam buku ”Pustaka Darah Agung” bahwa Sunan Kalijaga lama berguru dengan Sunan Syarif Hidayatullah Cirebon, maka beliau pernah kawin dengan Dewi Sarokah, yaitu anak puteri Sunan Syarif Hidayatullah dan memperoleh 5 orang anak, yaitu :
1.Kanjeng Ratu Pembayun yang menjadi isteri Raden Trenggono (Demak)
2.Nyai Ageng Panenggak yang kemudian kawin dengan Kyai Ageng Pakar.
3.Sunan Hadi (yang menjadi panembahan kali) menggantikan Sunan Kalijaga sebagai Kepala Perdikan Kadilangu.
4.Raden Abdurrahman.
5.Nyai Ageng Ngerang (makamnya di daerah Solo, Jawa Tengah).
Sunan Kalijaga disebut juga dengan nama-nama Raden Syahid, Raden Abdurrahman, Lokojoyo, Jogoboyo dan Pangeran Tuban. Tetapi yang disebutkan di dalam buku ”Babat Tanah Jawi” mengatakan, bahwa pada usia muda Raden Syahid pernah berguru dengan Sunan Ampel dan juga kepada Sunan Bonang, pada suatu saat beliau diperintahkan untuk menuju Cirebon berguru kepada Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Lalu diperintahkan bertapa di pinggiran sungai di suatu desa bernama ”Kalijaga”. Setelah selesai kembali ke Demak dan oleh kalangan Walisongo di Demak beliau diberi sebutan “Kalijaga”. Tempat pertapaan Raden Syahid yang bernama “Kalijaga” ini sampai sekarang masih ada petilasannya, yaitu di desa kalijaga, sebelah selatan Terminal Bus Induk kota Cirebon.
Pada umumnya para Walisongo namanya menjadi terkenal dengan tempat makamnya, tidak demikian halnya Sunan Kalijaga yang makamnya berada di Kadilangu, tetapi namanya tetap terkenal dengan sebutan “Sunan Kalijaga”.

B.2 Peninggalan Sunan Kalijaga

Masjid Kadilangu.
Sewaktu Sunan Kalijaga masih hidup, Masjid Kadilangu itu masih berupa Surau kecil. Setelah Sunan Kalijaga wafat dan digantikan oleh puteranya yang bernama Sunan Hadi (putera ketiga). Surau tersebut disempurnakan bangunannya hingga berupa masjid seperti terlihat sekarang ini. Disebutkan disebuah prasasti yang terdapat di atas pintu masjid sebelah dalam yang berbunyi : “Meniko titi mongso ngadekipun masjid ngadilangu pada hari Ahad Wage tanggal 16 sasi dzul-hijjah tahun tarikh jawi 1456, (ini waktunya berdiri masjid Kadilangu pada hari Ahad Wage tanggal 16 bualn dzul-hijjah tahun tarikh jawa 1456). Tulisan tersebut aslinya bertulisan Arab. Menurut tutur kata rakyat Masjid Kadilangu ini sudah beberapa kali mengalami perbaikan di sana sini, sehingga banyak bagian bangunannya yang sudah tidak asli, terutama bagian luarnya.
Di Cirebon tepatnya di desa Kalijaga telah terdapat sebuah masjid kuno, letaknya bersebelahan dengan petilasan pertapaan Sunan Kalijaga. Masjid ini oleh masyarakat Cirebon khusunya dikenal dengan nama “Masjid Sunan Kalijaga”.
Masjid tersebut sudah tampak tua, meskipun di sana sini sudah tampak ada perbaikan terutama bagian dinding luar. Berita-berita dari rakyat telah menyampaikan keterangannya yang berbeda-beda.
Ada yang mengatakan, bahwa masjid tersebut berdiri sebelum Sunan Kalijaga berada di tempat pertapaanya itu. Pada saat Sunan Kalijaga bertapa, setiap waktu sholat beliau mengerjakan sholatnya di dalam masjid tersebut. Sehingga masyarakat sekeliling pada waktu itu menyebutnya dengan nama masjid Sunan Kalijaga
Ada yang mengatakan, bahwa masjid tersebut berdiri setelah Sunan Kalijaga selesai melakukan tapa (semedi). Berhubung masjid tersebut letaknya berdampingan dengan tempat pertapaan Sunan Kalijaga, maka oleh masyarakat kemudian dinamai masjid “Sunan Kalijaga”.
Kedua pendapat tersebut memang sulit untuk dibuktikan kebenarannya, karena memang sampai sekarang tutur rakyat tersebut tidak dapat dibuktikan dengan bukti-bukti nyata peninggalan sejarah. Tapi yang jelas sampai sekarang masyarakat Cirebon pada menyebut masjid tersebut dengan nama “Masjid Sunan Kalijaga”.
Masjid ini tampak dari luar sangat angker, mungkin karena letaknya yang berada ditengah-tengah hutan yang penuh dengan ratusan binatang “kera”. Di sekeliling tersebut hanya ada penduduk yang jumlahnya sedikit, kurang lebih terdiri dari sembilan rumah. Masjid ini tampak kurang berfungsi, baik untuk berjamaah shalat lima waktu maupun sebagai tempat atau pusat kegiatan penyiaran agama Islam.
Sunan Kalijaga semasa hidupnya.
Sewaktu masih muda, Raden Syahid tergolong anak muda yang cerdas, trampil, pemberani, dan berjiwa besar, usia mudanya tidak disia-siakan begitu saja, tetaapi benar-benar dipergunakan untuk membesarkan dirinya meskipun tanpa bekal orang tuanya. Beliau suka berguru pada sesepuh. Ilmu-ilmu yang diambil dari gurunya antara lain: ilmu hakikat, ilmu syariah, ilmu kanuragan, ilmu filsafat, ilmu kesenian dan lain sebagainya, sehingga beliau dikenal masyarakat pada masa itu sebagai seorang ahli tauhid, mahir dalam ilmu syariat, mampu mengusai ilmu setrategi perjuangan dan juga seorang filasof. Bahkan ahli pula di bidang sastra sehingga terkenal juga sebagai seorang pujangga karena syair-syairnya yang indah, terutama syair-syair jawa. Lantaran ilmu-ilmu dan kemampuan pribadi yang dimiliki itu, Sunan Kalijaga termasuk salah seorang anggotaa kelompok ”Walisongo” atau ”Walisembilan” yang bergerak dibawah pengatuaran kekuasaan Sultan Patah di Demak. Beliau ditugaskan oleh kelompok walisongo ini untuk menggarap masyarakat di daerah-daerah pedalaman yang kondisinya sangat rawan, karena perilaku kehidupan mereka yang sangat tidak terpuji, misalnya didaerah yang sering terjadi pencurian dan pembunuhan, didaerah yang masyarakat yang suka berjudi, meminum minuman keras dan lain sebagainya. 
Perjuangan Sunan Kalijaga.
Pada saat giat-giatnya para Walisongo berjuang menyiarkan agama Islam, maka Sunan Kalijaga yang termasuk di dalamnya tidak ketinggalan untuk bangkit memperjuangkan syiar dan tegaknya agama Islam, khususnya di tanah Jawa. Beliau termasuk kalangan mereka para Wali yang masih muda, tetapi mempunyai kemampuan yang luar biasa, baik kecerdasan dan ilmu-ilmu yang dimiliki, maupun kondisi umur dan tenaga yang masih muda bila dibandingkan dengan yang lainnya. Ternyata Sunan Kalijaga didalam gerak perjuangannya tidak lepas dari penugasan khusus dan bimbingan yang diberikan para sesepuh Walisongo. Karena itu Sunan Kalijaga benar-benar membanting tulang. Tidak hanya melakukan dakwah disuatu daerah saja, melainkan hilir mudik, keluar masuk hutan dan pegunungan, siang malam terus melakukan tugasnya itu, sehingga terkenal sebagai ”Muballigh Keliling”. Beliau memberanikan diri bertabligh atau berdakwah dengan melalui pertunjukan kesenian berupa ”Wayang” lengkap dengan gamelannya. Sedangkan cerita-cerita yang ada didalam lakon pewayangannya itu diramu dengan butir-butir tuntunan agama Islam dan diselingi dengan syair-syair jawa yang mengandung ajaran agama Islam pula, sehingga rakyat yang menonton dan mendengarkan cerita wayang yang dipertunjukan Sunan Kalijaga itu tidak merasakan bahwa dirinya sudah mulai kemasukkan ajaran agama Islam. Cara-cara dakwah Sunan Kalijaga yang semacam ini diterapkan dalam perjuangannya itu lantaran adanya pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
a.Bahwa rakyat dan penduduk tanah Jawa pada saat itu masih kuat dipengaruhi oleh kepercayaan agama Hindu dan Budha atau juga oleh kepercayaan warisan nenek moyang mereka dahulu, sehingga tidak mungkin begitu saja untuk dialihkan kepercayaannya. Karena itu harus pelan-pelan memasukkan ajaran agama Islam, tidak bisa melalui kekerasan.
b.Bahwa rakyat di tanah Jawa pada saat itu masih kuat di dalam memegang adat istiadat dan budaya nenek moyangnya, baik yang bersumber dari ajaran agama Hindu dan Budha, maupun kepercayaan animisme yang mereka yakini saat itu, sehingga tidak mudah meruban begitu saja terhadap adat istiadat dan budaya tersebut, tetapi Sunan Kalijaga justru membiarkan adat istiadat dan budaya tersebut tetap berjalan di tengah-tengah mereka, hanya saja sedikit demi sedikit adat istiadat dan budaya itu di masuki dengan ajaran agama Islam, baik yang menyangkut hakikat (tauhid) maupun syariah serta akhlaqul karimah.
Dengan pertimbangan keadaan rakyat yang seperti itu maka Sunan Kalijaga harus berfikir untuk menemukan cara yang paling tepat dalam perjuangan mengajak mereka memeluk agama Islam, maka ditemukanlah jalan yaitu bertabligh dengan menyuguhkan ”Kesenian Wayang” yang pada saat itu sedang digemari oleh masyarakat di tanah Jawa ini.
Tidak hanya cara itu saja yang ditempuh oleh Sunan Kalijaga, tetapi beliau bahkan sering bercampur-campur rakyat yang boleh dikatakan ”abangan”. Demikian menurut berita rakyat yang masih bisa diterima. Suatu saat beliau bercampur dengan orang-orang yangt masih kotor perilaku terpuji, misalnya orang-orang yang suka mengadu ayam, berjudi, meminum minuman keras juga terhadap orang yang pekerjaannya mencuri dan lain sebagainya. Beliau bercampur dengan mereka itu tidak memperlihatkan ”sikap fanatik” terhadap mereka justru Sunan Kalijaga membina dan membimbing mereka secara pelan-pelan menuju jalan yang benar sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam, meskipun harus memutar otak dan membanting tulang. Mereka menjadi sadar, bahwa apa yang diperbuat se4muanya itu telah merugikan dirinya dan dapat berakibat fatal terhadap rakyat banyak.
Ada sementara orang yang beranggapan, bahwa karena sikap dan perilakunya Sunan Kalijaga yang terlihat ”sok campur dengan orang-orang jelek, sok campur dengan orang-orang abangan” lalu memberikan penilaian dan bahkan memberikan sebutan sebagai ”Wali Abangan”. Berdasar cerita diatas tadi, maka sebutan dan anggapan tersebut adalah ”tidak benar”, karena apa yang diperbuat oleh Sunan Kalijaga seperti itu sesungguhnya merupakan sikap menjalankan perintah dari Walisongo bukan karena sikap laku dirinya lantaran kebodohannya.
Hampir seluruh masa hidup Sunan Kalijaga benar-benar dipergunakan untuk berjuang demi syiarnya agama Islam, khususnya di tanah Jawa sebagaimana para Wali yang lainnya. Akhirnya beliau wafat, sayang sampai sekarang belum ada ahli sejarah satupun yang dapat menemukan tahun wafatnya. Bahkan juga kelahiran beliau hanya ada berita dari rakyat yang menyatakan bahwa Sunan Kalijaga wafat setelah berumur panjang sekali, sehingga pada masa hidupnya dapat mengalami masa kekuasaan 3 kerajaan, yaitu :
Pertama : masa kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Kedua : masa kekuasaan Kerajaan Demak.
Ketiga : masa kekuasaan Kerajaan Pajang.
Sampai sekarang haanya bisa diketahui makamnya, yaitu di desa ”Kadilangu” kabupaten Demak, kurang lebih 2 km dari Masjid Agung Demak.
Jasa-jasa Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga termasuk salah seorang dari kalangan Walisongo yang tergolong muda saat itu, lagi pula paling berat tugasnya maka apabila sejarah perjuangan beliau diteliti, sesungguhnya tidak sedikit jasa-jasanya. Antara lain ialah :
a.Bidang Strategi Perjuangan.
Seperti diketahui bahwa Walisongo didalam menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa ini tidak begitu saja melangkah, melainkan mereka menggunakan cara-cara dan jalan (taktik dan strategi) yang diperhitungkan benar-benar, memakai pertimbangan yang masak, tidak ngawur sehingga agama Islam disampaikan kepada rakyat dapat diterima dengan mudah dan penuh kesabaran, bukan karena terpaksa.
Sunan Kalijaga didalam menyebarkan ajaran Islam benar-benar memahami dan mengetahui keadaan rakyat yang masih kebal dipengaruhi kepercayaan agama Hindu Budha dan gemar menampilkan budaya-budaya Jawa yang berbau kepercayaan itu, maka bertindaklah beliau sesuai dengan keadaan yang demikian itu, sehingga taktik dan strategi perjuangan beliau disesuaikan pula dengan keadaan, ruang dan waktu.
Berhubung pada waktu itu sedikit para pemeluk agama Siwa Budha yang fanatik terhadap ajaran agamanya, maka akan berbahaya sekali apabila dalam mengembangkan agama Islam selanjutnya tidak dilakukan dengan cara bijaksana dan melaui jalan pendekatan yang mudah ditempuh. Para Wali termasuk Sunan Kalijag mengetahui bahwa rakyat dari kerajaan Majapahit masih lekat sekali dengan kesenian dan kebudayaan mereka, misalnya gemar terhadap gamelan dan keramaian-keramaian yang bersifat keagamaan siwa Budha.
Setelah para Walisongo mengadakan musyawarah bersama, maka telah ditemukan suatu cara yang tepat sekali untuk mengIslamkan mereka. Cara tersebut yang menemukan adalah Sunan Kalijaga salah seorang yang terkenal berjiwa besar, berpandangan jauh kedepan, berfikir tajam dan kritis dan yang lebih menarik justru beliau berasal dari suku jawa asli lagi pula ahli seni, sehingga beliau paham terhadap seni-seni Jawa dan gamelan serta gending-gending.
b.Bidang Kesenian
Sunan Kalijaga ternyata mampu menciptakan kesenian dengan berbagai bentuknya. Maksud utama kesenian itu diciptakan adalah sebagai alat dalam bertabligh mengelilingi berbagai daerah, ternyata malah mempunyai nilai sejarah yang berharga bagi bangsa Indonesia. Kesenian yang diciptakan Sunan Kalijaga tersebut berupa ”Wayang” lengkap dengan gamelannya. Bahkan Sunan Kalijaga pernah memesan kepada orang yang ahli membuat gamelan, yaitu pesan supaya dibuatkan ”Serancak gamelan” yang kemudian diberi nama gamelan ”Kyai Sekati”.
Dan masih banyak yang diciptakan Sunan Kalijaga dibidang seni termasuk seni lukis dan lain sebagainya. Dari sinilah Sunan Kalijaga kemudian terkenal dikalangan masyarkat Jawa sampai sekarang sebagai seorang ahli seni. 
Di lain pihak Sunan Kalijagajuga menciptakan karangan cerita-cerita pewayangan yang kemudian dikumpulkan dalam kitab-kitab cerita wayang dan sampai sekarang masih ada. Cerita-cerita itu masih berbentuk ceriat menurut kepercayaan jawa dengan corak kebudayaannya yang ada, tetapi sudah dimasuki unsur-unsur ajaran Islam sebanyak mungkin. Cara itu dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Karena adanya pertimbangan, bahwa rakyat pada saat itu masih tebal kepercayaannya Hindu Budha-nya.
Sebab-sebab itulah yang mendorong Sunan Kalijaga harus memutar otak dan membanting tulang sebagai salah seorang mubaligh untuk mengatur siasat dan menempuh jalan yang tepat, yakni mengawinkan ajaran Islam dengan kebiasaan dan kebudayaanmereka sebagaimana yang ditempuh pula para Wali yang lainnya.
Satu hal yang patut dicatat, menurt komentar rakyat, bahwa Sunan Kalijaga disamping sebagai mubaligh keliling kesana-kemari menyampaikan dakwahnya, ternyata beliau masih sempat pula mengarang cerita-cerita wayang terutama yang menagandung nilai filosofis dan berjiwa Islam, termasuk seni suara denagn bentuk syi-ir-syi-irnya yang mengandung Tauhid kepada Allah SWT.
c. Bidang lain-lain
Disamping jasa-jasa beliau tersebut tadi, maka masih ada jasanya yang lain, seperti pendirian Masjid Agung Demak, Sunan Kalijaga tidak ketinggalan ikut serta membangun masjid bersejarah itu. Malah ada hasil karya beliau yang sangat terkenal sampai sekarang yaitu ”Soko Tatal” artinya tiang pokok dalam Masjid Agung Demak yang terbuat dari potongan-potongan kayu jati, lalu disatukan dalam bentuk tiang bulat berdiameter kurang lebih 70cm ini yang membuat adalah Sunan Kalijaga.
Makam Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga wafat dan dimakamkan di desa “Kadilangu” Demak. Menurut cerita rakyat menyatakan, Sunan Kalijaga bertempat di desa Kadilangu ini dimungkinkan karena pertimbangan supaya dekat dengan Demak sebagai pusat pemerintahan Islam saat itu. Dengan demikian memudahkan beliau mengadakan kontak dengan pusat pemerintahan. Sampai akhir hayatnya beliau berada di desa Kadilangu dan dimakamkan di desa ini juga.
Setiap hari makam beliau banyak dikunjungi orang yang kebanyakan bertujuan ziarah makamnya, meskipun kadang-kadang ada juga yang datang hanya ingin tahu makam pembuat sejarah penting di tanah Jawa ini. Pada hari-hari tertentu makam Sunan Kalijaga ramai, banyak orang berziarah, terutama hari Ahad, Kamis dan Jum’at. Bahkan lebih ramai lagi pada hari kamis malam jum’at kliwon, baik yang tua maupun yang muda. Terlihat pada waktu mereka berziarah di makamnya, ada yang membaca surat yaa-siin, ada yang membaca Tahlil dan ada yang terus melakukan riyadlah beberapa hari di makam tersebut.
Biasanya pada tanggal 10 Dzul-hijjah, makm Sunan Kalijaga juga ramai dikunjungi orang, karena ingin melihat atau mengikuti upacara penjamasan benda-benda pusaka terutama yang berupa “Kelambi Kyai Gondil”, sebagian tutur rakyat bukan saja Kelambi Gondil yang disucikan, tetapi juga “Kelambi Onto Kusumo” juga.
B.3 Manfaat cerita rakyat Makam Sunan Kalijaga bagi masyarakat Kadilangu dan Sekitarnya.
Memberikan informasi, pengajaran, hiburan, dan memberikan pengetahuan kepada khalayak agar mengetahui sejarah peninggalan pada zaman dahulu khususnya Makam Sunan Kalijaga.
B.4 Persepsi masyarakat tentang cerita rakyat Makam Sunan Kalijaga.
Dalam cerita rakyat Makam Sunan Kalijaga terdapat salah satu benda peninggalan beliau yaitu, 2 buah Gentong. Gentong tersebut dulunya digunakan untuk wudhu dan airnya diambil langsung dari sungai kadilangu.
Karena itulah sampai saat ini banyak orang yang datang berziarah meminta berkah yaitu untuk diminum juga berwudhu. Mereka percaya bahwa air tersebut dapat membuat kita pintar dan selalu sehat. Percaya atau tidak terserah pada diri kita masing-masing. Tuhan menciptakan benda-benda di alam ini pasti ada manfaatnya bagi kehidupan manusia.
C. Nilai-nilai Cerita Rakyat ”Makam Sunan Kalijaga”.
Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut memiliki tiga nilai yaitu :
Nilai Keagamaan : Upaya penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga di daerah Demak dan sekitarnya.
Nilai Budaya : Sunan Kalijaga menyebarkan agama islam dengan Gendhing-gendhing Jawa dan Gamelan.
Nilai Kepahlawanan : Saat Sunan Kalijaga menggarap masyarakat di daerah-daerah pedalaman yang kondisinya sangat rawan.
Nilai Sosial : Sunan Kalijaga adalah orang yang gemar merakyat.


SEJARAH MASJID AGUNG DEMAK

B. Cerita Sejarah Islam Pulau Jawa
Secara kronologis pemerintahan kesultanan bintaro dan situs masjid Agung Demak diawali lahirnya seorang satria + tahun 1448 m di sriwijaya, pulau sumatra. Merupakan keturunan Raden Kerta bumi dengan putri Campa. Waktu lahir ibunya memberi nama pangeran Jimbun, tetapi adipati Haryo damar memberi nama Raden Hasan (logat Arab) dalam versi lain Raden Patah/Raden Fattah.
Raden Fattah merantau ke pulau jawa dan berguru kepada wali songo. Pada usia + 14 tahun beliau telah berani merantau dari pulau sumatra ke pulau jawa yang disertai adik lain tapi beda bapak yaitu Raden Husein dan pemomongnya Aang dan Hong Jebat. Berguru pada wali 9 + 12 tahun. Tahun 1475 m usia + 27 tahun diangkat menjadi adipati Noto Praja di Glagahwangi.
Pada tahun 1478 M dalam usia +30 tahun diangkat sebagai raja islam I pulau jawa dengan gelar sultan Bintoro Demak I yang dijuluki Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al Akbar Sayyidin Panota Gomo tahun 1478 M -1518 M. Setelah itu diganti Raden Pati Unus tahun 1518 – 1521 M. Setelah Pati Unus II wafat digantikan adiknya yaitu Raden Trenggono tahun 1521 – 1546 M. Karena adanya pertikaian keluarga kemudian kesultanan Demak berpindah di Pajang yang dijabat Raden Hadiwijaya tahun 1478 M – 1582 M. Selanjutnya penerus kesultanan bintoro Demak ialah Pajang Mataram.
Demikian sejarah kesultanan Bintoro dimana terdapat peninggalan sejarah purbakala yaitu situs Arkeologi berupa Artefak masjid ciptaan wali 9 yang menjadi cagar budaya islam jawa tengah. Pembangunan dilakukan tiga tahap yaitu :
I. Condro sengkolo : Nogo mulat saliro wani 
Tahun (1466 M)
II. Condor sengkolo : Kori trus gumaning janmi 
Tahun (1477 M)
III. Condro sengkolo : Sariro sunyi kiblating gusti 
Tahun (1479 M)
Struktur bangunan Masjid Agung Demak ada 3 tahap
Masjid bersejarah ciptaan ”wali 9” di Demak, Jawa Tengah itu bernuansa religius. Sebagian besar struktur bangunan dikerjakan oleh para waliullah itu mengandung nilai FILOSOFIS, dilindungi UU No.5/1995 tentang BENDA CAGAR BUDAYA yang sekarang disebut Masjid Agung Demak, merupakan Living Monument atau Monumen Hidup.
Masjid bersejarah itu dilaksanakan oleh ”wali 9” dalam tiga tahap pembangunan :
I. Semula disebut Masjid Glagahwangi, karena terletak ditengah pondok pesantren Glagahwangi yang diasuh da dipimpin oleh sunan Ampel yang didirikan tahun 1466 M.
II. Setelah R. Fattah diangkat menjadi Adipati Majapahit di Glagahwangi 1475 M, kemudian masjid dilakukan rehabilitasi berat, sejak itu disebut Masjid Kadipaten Glagahwangi 1477 M.
III. Selanjutnya setelah direnovasi disebut Masjid Kasultanan Bintoro sejak 1479 M, setelah R. Fattah disengkuyung oleh waliullah untuk menduduki tahta kasultanan I di pulau Jawa 1478 M. 

Setelah itu di sebut Masjid Agung Demak, demikian juga masjid-masjid utama yang berada dikota: kotamadya dan kabupaten mengalami perubahan penyebutan sebagai Masjid Agung, sesuai peraturan Menteri Agama R.I. No. 1/1988 yang berlaku sejak tahun 1991.

1.Pembangunan Masjid Tahap I Oleh ”Wali 9”
Dinamakan Masjid Glagahwangi, karena didirikan di tengah pondo pesantren Glagahwangi oleh ”wali 9” bersama kaum santri termasuk pangeran Jimbun/R. Husain/R.Purbo/R.Fattah (pangeran dari Palembang,Sriwijaya, Sumatra itu adalah putra pertama dari Putri Campa dengan Prabu Kertabumi/Brawijaya V/Raja Majapahit XI, putrabeliau urutan ke-13). Konon masjid bersejarah dibangun oleh ”wali 9” selesai dalam satu malam saat bulan purnama, bertepatan malam jum’at kliwon, bulan ruwah, tahun Jawa 1388 S.
Masjid Glagahwangi merupakan masjid pertama di pulau Jawa, karena selesai semalam maka Ki Ageng Selo menggambarkan bagai halilintar/petir/bledeg (jawa) dilukis sebagai bintang mitos berupa ”mahkota kepala naga” dengan mulut bergigi yang terbuka dan jambangan yang disertai bunga-bunga tumbuhan, terukir pada daun pintu yang terbuat dari kayu jati. Pintu itu terletak di tengah/utama masjid, sebagai ”Condro sengkolo” atau prasasti yang bermakna ”Nogo mulat saliro wani,” artinya berdirinya masjid itu pada tahun jawa = 1388 S identik dengan tahun 1466 M (masjid yang berada di tengah pulau jawa).
Anggapan masyarakat, bahwa Ki Ageng Selo yang sakti itu pernah menangkap petir/bledeg (jawa), sehingga mengundang simpati masyarakat untuk mengikuti ajaran ”wali 9” yang menganut agama islam. Masyarakat sampai sekarang memberi sebutan ”pintu Bledeg.” 
2.Pembangunan Masjid Tahap II Oleh ”Wali 9”
Sewaktu Pangeran Jimbun/R. Husain /R. Purbo/R. Fattah menjabat adipati Majapahit di Glagahwangi dengan gelar Adipati Notoprojo tahun 1475 M. Maka masjid dipugar, direnovasi, diperluas, diperindah, diperkuat konstruksinya, yang dikerjakan oleh para wali bersama kaum santri dan dibantu oleh tukang-tukang yang didatangkan dari tiongkok. Karena masjid itu menjadi tanggung jawab Adipati Notoprojo, maka disebut Masjid Kadipaten.
Purna pugar Masjid di kadipaten Glagahwangi ditandai ”Condro sengkolo” atau prasasti yang bermakna 2kori trus gumaning janmi” yang dapat diartikan pada tahun jawa = 1399 S identik dengan tahun 1477 M. Purna pugar diresmikan oleh R. Fattah setelah dua tahun memangku jabatan Adipati Notoprojo di Glagahwangi.
3.Pembangunan Masjid Tahap II Oleh ”Wali 9 ”
Setelah R. Fattah disengkuyung Waliullah naik tahta kerajaan islam I di tanah jawa pada tahun 1478 M dengan gelar Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al Akbar Sayyidin Panotogomo yang berkedudukan di Bintoro, maka masjid yang religius itu dipugar, dipercantik dan dibenahi menjadi masjid keraton/kasultanan Bintoro yang megah, anggun dan berwibawa, oleh dewan wali yang dipimpin oleh syaikh Maulana Maghribi/syaikh Maulana Muhammad Al Muhdlor yang berasal dari Maroko dimana rancang bangunnya dibantu oleh para wali, terutama dari sunan Kalijaga, sunan Bonang, sunan Ampel dan sunan Gunung Jati.
Satu tahun setelah R. Fattah menduduki tahta kerajaan/kasultanan Bintoro,yakni pada tahun 1479 M kanjeng sultan berkenan meresmikan purna pugar menjadi Masjid kasultanan /Masjid Wironatan yang ditandai ”Condro sengkolo memet” atau prasasti bergambar bulus yang terletak pada dinding depan Mihrab/pengimaman. Lambang bulus itu dapat diartikan bahwa purna pugar Masjid kasultanan Bintoro, bermakna ”Satrio sunyi kiblating gusti” atau jawa 1401 saka identik tahun 1479 M.
Adagium jawa menyebutkan ”wong kang lumlebu Masjid kudu alus” (orang yang beribadat kehadirat Allah S.W.T di dalam Masjid harus suci).
Selanjutnya kanjeng Sultan Bintoro yang bijak itu mengalihfungsikan bekas pendopo Majapahit dan Dampar Kencana yang dihadiahkan kepada R. Fattah 1475 M, yaitu pendopo dari Majapahit menjadi serambi yang diletakkan didepan Masjid. Sedangkan dampar Kencana menjadi Mimbar Khotbah yang diletakkan di depan sebelah kanan Mihrab atau yang sekarang berpasangan dengan Kholwat.
4.Struktur Masjid ”Wali 9 ” Abad XIV
Masjid ciptaan wali 9 memang unik. Masjid induk berdinding ”segi empat” dan ”empat sudut,” seluruh bangunan atap tiga tingkat disangga/didukung ”empat soko guru” waqof dari sunan Ampel, sunan Kalijaga, sunan Bonang dan sunan Gunung Jati. Ini mengindikasikan bahwa para wali yang pernah hidup tahun 1400 s/d 1500 M telah menganut faham ”Madzhab Empat” antara lain ”Madzhab imam syafi’i” dengan ”I’tiqad ahlussunah wal jamaah” hampir seluruh bangunan mulai dari atap (genting), kerangka konstruksi, balok loteng, geladag, soko guru dan lain-lain terbuat dari kayu jati ukuran besar (raksasa) seperti ukuran : sirap 3 x 25 x 68 cm, reng 4 x 6 cm, usuk 14 x 14 cm, balok kayu 30 x 30 cm.
Bangunan atas, berupa atap limas piramida susun tiga (gunungan/meru) merupakan pengejawantahan akidah : Islamiyah yang bersumber kepada (1) Iman (2) Islam (3) Ihsan.
Bangunan puncak : biasanya disebut Mustaka. Dalam hal ini dapatlah memberi gambaran, bahwa kekuasaan yang tertinggi, sevara mutlak hanyalah kehadirat ”ALLAH SUBHAANAHU WATA’ALA.”
Bagian Masjid ukuran dari bagian dalam 24 x 24 m2, ketinggian sampai Mustaka = 21,65 m dan emperan keliling lebar rata-rata = 2,80 m sedang luas mihrab/pengimaman = 146 x 268 cm. Luas serambi Masjid 17,50 29,00 m2 dengan ketinggian 7,63 m. Bagian pawestren/keputrian (khusus untuk sholat ibu-ibu) luas 7 13 m2.
Luas situs Masjid ”wali 9 ” di demak + 1,5 ha.
Kelengkapan bangunan, Masjid induk terdiri : 
1) Pintu Bledeg ”Condro sengkolo”abad XIV,
2) Soko guru wali : Amper, Kalijogo, Bonang dan Gunung jati abad XIV,
3) Zampar kencana/mimbar abad XIII,
4) Kholwat/maksuroh,
Lambang-lambang dan hiasan seperti lambang bulas di pengimaman, surya Majapahit, akar mimang/lambang ghoib, piringan putri Campa, huruf-huruf Iiahiyah dan prasasti lain yang nampaknya masih sulit dijelaskan atau dipahami.
Kelengkapan bangunan serambi Masjid dari bekas pendopo Majapahit abad XIII, antara lain bukti sejarah berupa delapan soko guru dari kayu yang ditopang batu andesit, semua diukir model kuna/bermotif ukiran Majapahit.
Kelengkapan yang berupa makam dari beberapa nama yang dapat dikenali antara lain : diluar cungkup R. Fattah/sultan Demak I, R. Patiunus/sultan Demak II, Permaisuri R. Fattah Nyi Ageng Manyuro Nyi Ageng Cempo, pangeran mekah dan istri pangeran mekah, pangeran Sedo Lepen/pangeran Surowiyoto (putra kedua R. Fattah), sunan Ngudung sekalian (orang tua sunan kudus). Ky. Ageng Campa, Prabu Darmo Kusumo, Adipati Terung (adik R. Fattah), pangeran Arya Panangsang, P. Jaran Panoleh, P. Jipang Panolan, P. Aryo Jenar, P. Benowo, K.A Natas Angin, Syeikh Maulana Maghribi, Syeikh Maulana Su’ud, Pangeran Singo Yudho, R. Khulkum, R.H. Tumenggung Wironegoro, Nyi Ageng Serang dan lain-lain.
Makam dalam cungkup antara lain makam : R. Trenggono/sultan Demak ke 3, Permaisuri Sultan Trenggono, Nyi Ageng Pinatih, sunan Prawoto/R. Haryo Bagus Mukmin (putra sultan Trenggono), Nyi Ageng wasi, pangeran Ketip, Kyai Ageng Wasi, Tumenggung Tanpa Siring, pangeran pandan/K.A Winopolo, patih Mangkurat, patih Wonosalam/Joko Wono pangeran Suruh , R. Mas Gawulan dan lain-lain.
Bangunan menara azan konstruksi baja tahun 1932 tinggi 22 m, dibangun atas ide K.H. Abdoerrochman seorang penghulu Demak, karena usianya sudah lebih dari 50 tahun dan masih utuh menjadi benda cagar budaya yang dilindungi UU No. 5 tahun 1992.

NAMA PENGUASA, SULTAN, ADIPATI, BUPATI, DEMAK TAHUN 1403 SAMPAI SEKARANG 

1. Pangeran Jimbun/sultan Fattah 1478 – 1518
2. Raden Makasar/sultan Patiunus 1518 – 1521
3. Raden Haryo/sultan Trenggono 1521 – 1546
4. Masa kosong situasi keluarga 1546 – 1560
5. R.M. karebet/sultan Hadiwijoyo 1560 – 1575
6. Masa transisi pindah ke Pajang 1575 – 1582
7. Hadipati Haryo Panggiri 1582 – 1586
8. Tumenggung Wironegoro 1586 – 1606
9. Hadipati Haryo nagoro 1606 – 1613
10. Ki Ageng Batang 1613 – 1616
11. Hadipati Yudonegoro 1616 – 1617
12. Ki Ageng Gombong 1617 – 1619
13. Situasi tidak stabil/penjajahan 1619 – 1621
14. Ki Ageng Seda Laren 1621 – 1646
15. Kembali situasi tidak stabil/penjajahan 1646 – 1649
16. Hadipati Mangkuprojo 1649 – 1701
17. Kondisi makin memburuk/penjajahan 1701 – 1734
18. Hadipati Wiryokusumo/Pn Krapyak 1734 – 1757
19. Hadipati Somodiningrat Kaloran 1757 – 1760
20. Ki Ageng Bogor 1760 – 1763
21. Situasi kosong/komplang 1763 – 1772
22. KI Ageng Kaliwungu 1772 – 1776
23. Haryo Nagoro/R.Brotokusumo 1776 – 1781
24. Hadipati Wiryo Hadinegoro 1776 – 1801
25. Situasi kosong Pangeran Cokro Negoro
Membangun pendhopo kadipaten
(sekarang kabupaten Demak) 1801 – 1845
26. K.P. Aryo Condronegoro IV 1845 – 1864
27. K.P. Aryo Poerbodiningrat 1864 – 1881
28. K.P. Haryodiningrat/Suryodiningrat
(putra kasunanan Surakarta) 1881 – 1901
29. Kosong /komplang akibat penjajah 1901 – 1918
30. K.R.T. Cokro Hamijoyo 1918 – 1923
31. K.R.T. Sosro Hadiwijoyo 1923 - 1936
32. Raden Iskandar Tirto Kusumo 1936 – 1942
33. Raden Soepangat 1942 – 1945
34. Raden Haryo Joyo Sudarmo 1945 – 1948
35. K.R.T. Rawuh Rekso Hadiprojo 1948 – 1949
36. Raden Soekirdjo 1949 – 1953
37. Raden Soekandar 1953 – 1957
38. Raden Sidoel Karta Atmojo 1957 – 1958
39. Raden Indriyo Yatmopranoto 1958 – 1966
40. Doemami, SH 1966 – 1972
41. Drs. Moch. Adnan Widodo 1972 – 1973
42. Drs. Winarno Surya Adi Subraya 1973 – 1978
43. Drs. H. Soedomo 1978 – 1984
44. Kol. E. Sumartha 1984 – 1985
45. Drs. Waluyo Cokrodarmanto 1985 – 1986
46. Kol. H. Soekarlan 1986 – 1996
47. Kol. H. Djoko Widji Suwito, SIP 1996 – 2002
48. Dra. Hj. Endang Setyaningdyah, MM 2002 – 2006
49. Drs. H. Tafta Zani, MM 2006 – Sekarang

0 Response to "CERITA SUNAN KALIJAGA"

Post a Comment

Tulis Tanggapan Anda Tentang Postingan Diatas