loading...
Mau Punya Penghasilan 250ribu/Minggu Klik DISINI

Sejarah Kisah Poligami Nabi Muhammad SAW

Seperti yang tercatat dalam sejarahnya Nabi Muhammad SAW dalam hidupnya pernah memiliki 9 orang istri bahkan ada yang beranggapan 12 orang. Banyak orang yang anti islam beranggapan apa yang dilakukan oleh Rasulullah ini adalah pelecehan terhadap hak-hak wanita. Namun yang perlu kita ketahui, bahwasannya ada hikmah agung yang tersimpan dalam kisah poligami Nabi Muhammad tersebut. Oleh sebab itu, pada kesempatan kali ini Kumpulan Sejarah akan mengungkap sejarah kisah Poligami Nabi Muhammad untuk meluruskan dan menjawab tudingan kaum anti muslim yang melecehkan akhlak nabi Muhammad SAW, sekaligus sebagai pengetahuan dan wawasan kita sebagai umat muslim agar tetap menambah kecintaan kita kepada Rasulullah SAW.

Sejarah Kisah Poligami Nabi Muhammad SAW
Yang harus kita ketahui sebenarnya Nabi Muhammad SAW itu adalah “penganut monogami”. Buktinya, ketika poligami (beristri lebih dari satu) begitu mentradisi dan menjadi kebanggaan di kalangan masyarakat arab pada waktu itu, Nabi Muhammad SAW hanya punya satu istri saja, yaitu “Siti Khadijah”, yang merupakan wanita yang memberikannya enam orang anak (dua pria dan empat wanita) selama 25 tahun ia membina rumah tangga dengan Nabi Muhammad SAW.

Sepanjang hidup dengan Siti Khadijah, Nabi Muhammad SAW tak pernah sama sekalipun main perempuan. Justru, setelah istri tercintanya itu meninggal 3 tahun menjelang hijrah umat Islam dari Mekah ke Madinah, Nabi Muhammad SAW sempat menduda selama kurang lebih empat tahun.

Apa yang dituduhkan oleh kaum barat tersebut merupakan fitnah yang sangat keji, lantaran cemburu atas kesuksesan Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat dalam berbagai sektor. Maka, untuk melampiaskan kecemburuan itu, sebagian orientalis dan tokoh agama tertentu, sengaja menodai kesucian Nabi Muhammad SAW dengan melontarkan tuduhan-tuduhan keji tersebut.

Untuk kita ketahui, kondisi masyarakat Arab Jahiliyah pada waktu itu sebelum datangnya Islam sangat memberikan peluang untuk mengumbar kemaksiatan. Saat itu, hubungan di luar nikah sudah memasyarakat dan menjadi sebuah tradisi yang sangat wajar. Bahkan, seorang pria yang menikahi puluhan wanita pun, justru jadi simbol ketinggian status sosial. Sungguh wanita Arab pada masa itu tak punya nilai sama sekali. Seakan kaum hawa diciptakan hanya untuk pelampiasan kaum pria semata.

Nabi Muhammad SAW yang ketika itu masih muda belia sekitar 20 tahun merasa khawatir dan prihatin melihat kelakuan kaum pria di tengah masyarakatnya. Beliau mencoba menjauhkan diri dari perilaku yang tidak manusiawi itu. Akhirnya, beliau mengasingkan diri ke Gua Hira di Jabal Nur (Gunung Nur). Beliau merenungi kemerosotan moral masyarakatnya. Kemudian Rasulullah mencoba mencari kebenaran dan petunjuk dalam kesepian itu.

Padahal, jika Nabi Muhammad SAW itu seorang pemaksiat, tentunya Beliau akan menghabiskan masa mudanya dengan menggauli puluhan, bahkan ratusan wanita cantik. Toh, saat usianya 20 tahun saja, nama Beliau sudah sangat populer di tengah masyarakat Arab sehingga orang memberinya gelar Al-Amin (Terpercaya). Akhlak terpujinya sudah menjadi buah bibir ditengah masyarakat dan ketampanan rupanya pun tidak kalah dengan pemuda-pemuda sebayanya. Lagi pula, Nabi Muhammad SAW merupakan keturunan “Darah Biru” yang kakek buyutnya adalah orang yang dipandang dan disegani di kalangan masyakarat Arab waktu itu, kakek-buyutnya adalah pemimpin Bani Hasyim dan salah satu tokoh terpandang yang disegani dan dihormati suku Quraisy. 

Tapi, ditengah gejolak darah mudanya itu, Nabi Muhammad SAW justru jadi penggugat tradisi poligami pelampias hubungan diluar nikah. Ini menunjukan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang bersih dari perbudakan hawa nafsu. Tak pernah ada catatan sedikitpun yang mengungkapkan Nabi Muhammad SAW pernah melampiaskan nafsu biologisnya di luar nikah.

Beliau baru menyentuh kulit wanita ketika menikahi Siti Khadijah. Pernikahan ini pun bukan atas dorongan nafsunya. Bukti sejarah menjelaskan, bahwa Nabi Muhammad SAW menikah pada usia 25 tahun, sementara Siti Khadijah yang berstatus janda ketika itu berusia 40 tahun. Kalau saja, Nabi Muhammad SAW adalah budak nafsu, jelas ditengah usianya yang masih muda itu, justru akan menikahi seorang, bahkan beberapa gadis cantik yang masih muda dan energik. Tapi ternyata tidak dilakukannya.

RASULULLAH SAW SEBENARNYA PENGANUT MONOGAMI

Harus dicatat, sejak menikah pada usia 25 tahun sampai ditinggal wafat istrinya pada usia 50 tahun, Nabi Muhammad SAW hanya punya satu istri saja yaitu Siti Khadijah. Padahal, kalau Beliau seorang budak nafsu, jelas ditengah kerentaan istrinya Siti Khadijah yang telah berumur 65 tahun itu, Beliau akan menikahi wanita lain agar nafsu biologisnya bisa tersalurkan sepuas-puasnya. Tapi ternyata tidak.

Bahkan empat tahun setelah wafatnya Siti Khadijah pun, Nabi Muhammad SAW masih bertahan sebagai duda. Beliau lebih memusatkan perhatiannya pada pengembangan dakwah Islam. Tak pernah terlintas sedikitpun untuk cepat-cepat mempunyai istri baru lagi.

Barulah ketika usia Beliau menginjak 55 tahun, keinginan untuk menikah lagi muncul. Hasrat ini dilatarbelakangi oleh karena keadaan umat Islam yang pada saat itu amat sangat menyedihkan dan memprihatinkan, terutama bagi kaum wanita dan anak-anak kecil. Saat itu, kaum kafir Quraisy dan Yahudi tengah meningkatkan permusuhan dan kebenciannya terhadap umat Islam, sehingga perilaku biadab yang dilancarkan musuh-musuh Islam tak bisa lagi dibiarkan, kecuali dilawan dengan kekuatan fisik. Singkat cerita, setelah turunnya wahyu dari Allah SWT, akhirnya terbukalah perang.

Di tengah terjadinya peperangan itu, tidak sedikit tentara Islam yang gugur sebagai syahid di medan pertempuran. Akibatnya jelas, banyak istri sahabat Nabi yang menjanda dengan memangku beban berat karena harus menghidupi anak-anak mereka yang tiada punya ayah lagi.

Dalam kondisi peperangan, tidaklah mungkin sempat membangun panti asuhan anak-anak yatim. Apalagi saat itu, lingkungan persaudaraan umat Islam masih sangat kecil sekali. Dan kondisi ekonomi umat Islam saat itu juga benar-benar sangat memprihatinkan. Sementara tentara musuh terus memburu tawanan wanita Islam untuk melampiaskan hawa nafsu mereka.

Fakta pahit itulah yang mendorong Nabi Muhammad SAW untuk membuka jalan menuju pintu poligami. Para sahabat Nabi yang dinilai mampu dimintanya untuk menikahi janda-janda korban perang sampai empat. Syaratnya, para sahabat itu harus mampu berbuat adil, baik terhadap istri-istrinya, maupun anak-anak yatim yang dalam perawatannya. Jikalau tidak bisa berbuat adil, cukup beristri satu saja. Syarat yang dikemukakan Nabi ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat : (3).

Nabi sebagai pembuka jalan poligami dalam keadaan darurat waktu itu, juga menikahi para janda sahabatnya, sehingga para janda itu selamat dari perlakuan semena-mena tentara musuh Islam. Anak-anak para janda yang berstatus yatim itu pun, terpelihara dan terjaga dengan baik.

Dalam catatan sejarah, setelah Siti Khadijah meninggal, Nabi Muhammad SAW menikahi 11 wanita, tiga diantaranya merupakan wanita budak atau tawanan perang (Siti Juwariyah, Siti Shafiyah, dan Maria Al-Qibtiyah), delapan orang lainnya adalah wanita merdeka yaitu (Siti Saudah, Siti Aisyah, Siti Hafsah, Siti Zainab Ummul Masakin, Ummi Salamah, Siti Zainab Putri Umaimah, Ummi Habibah dan Siti Maimunah). Dari delapan wanita merdeka itu, hanya satu wanita saja yang berstatus masih gadis. Itulah Siti Aisyah, sedangkan yang lainnya berstatus janda.

MEMULIAKAN DERAJAT WANITA

Masyarakat Arab waktu itu memandang wanita-wanita tawanan perang atau wanita-wanita yang dihadiahkan majikannya kepada pihak lain, adalah budak. Wanita hanya dianggap sebagai alat pemuas nafsu birahi. Ditengah masyarakat pun, wanita tak punya kedudukan apa-apa.

Pandangan dan perlakuan negatif seperti ini kemudian dipatahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dua wanita tawanan perang Islam, (Siti Juwairiyah, dan Siti Shafiyah) Beliau merdekakan, kemudian Beliau nikahi. Maria Al-Qibtiyah yang dihadiahkan Muqauqis Raja Romawi di Mesir kepada Nabi Muhammad SAW juga dimerdekakan dan dinikahi. Dengan begitu, ketiga wanita ini menempati derajat tertinggi di tengah masyarakat Islam karena telah menjadi istri Nabi.

Menyimak pernikahan Nabi dengan tiga wanita tersebut, jelas bukan lantaran dorongan nafsu syahwat, melainkan untuk menghargai dan mengangkat derajat kaum hawa, sehingga terbebas dari perbudakan nafsu pria. Nilai tambah dari pernikahan Nabi Muhammad dengan para janda ini ditandai dengan makin berkembangnya ajaran Islam dan makin terkuburnya permusuhan antar suku.

Dengan menikahi Siti Juwairiyah, putri pemimpin Kabilah Yahudi Bani Mustaliq, Nabi Muhammad SAW berhasil mengislamkan ratusan orang dari Bani Mustaliq itu. Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Shafiyah, putri kepala kabilah yahudi Bani Nadlir, juga menuntaskan permusuhan antara kaum muslimin dengan Yahudi Madinah. Dan, pernikahan Nabi dengan Siti Saudah pun, berhasil mendamaikan permusuhan antara Bani Abdi Syam dengan Bani Hasyim.

Hebatnya lagi, pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Maimunah, menarik dua tokoh Quraisy ternama untuk memeluk Islam secara sukarela yaitu Ibnu Abas dan Khalid bin Walid. Sementara, pernikahan Nabi dengan Siti Aisyah dan Siti Hafsah membawa pengaruh besar terhadap keutuhan ajaran Islam. Siti Aisyah yang berotak cerdas, berwawasan luas serta memiliki daya ingat yang luar biasa, tercatat sebagai narasumber lahirnya Hadist-hadist setelah Nabi wafat. Dan Siti Hafsah yang rajin mengumpulkan teks Al-Qur’an yang ditulis para sahabat ternama di pelepah kertas, daun kurma, batu dan lain-lain. Teks-teks Al-Qur’an tersebut kemudian dihimpun menjadi satu. Akhirnya, lahirlah Kitab Suci Al-Qur’an seperti yang kita kenal sekarang ini.

Nah, sekianlah tulisan mengenai Sejarah Kisah Poligami Nabi Muhammad SAW, mudah-mudahan dapat menambah wawasan serta pengetahuan kita sebagai umat Islam. Semoga apa yang telah dijabarkan dapat meluruskan makna serta hikmah poligami yang pernah dilakukan oleh Rasulullah

0 Response to "Sejarah Kisah Poligami Nabi Muhammad SAW"

Post a Comment

Tulis Tanggapan Anda Tentang Postingan Diatas