loading...
Mau Punya Penghasilan 250ribu/Minggu Klik DISINI

Cerita Misteri - Buto Ijo Merenggut Nyawa Adikku Sebagai Tumbal


Darman hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat untuk menghilangkan pepat yang menghimpit dadanya. Betapa tidak, belum genap enam bulan ia merantau ke
Jakarta, seorang adiknya yang bekerja di sebuah toko hasil bumi terbesar yang ada
di kotanya meninggal dunia tanpa sebab yang jelas.

Darman tak mungkin merutuki nasib keluarganya yang seolah tak lekang dirundung kemiskinan — maklum, sang ibu meninggal dunia beberapa bulan setelah melahirkan Darto, si bungsu, dan sang ayah
pun menyusul setahun kemudian. Sejak itu, kehidupan keluarga kecil itu menjadi tanggungjawab Darman selaku anak lelaki tertua.

Walau masih berusia 12 tahun, tetapi, Darman tak pernah mengeluh apalagi menyerah. Sejak pagi, ia menjajakan koran di seputar terminal — sekiar pukul 10, ia kembali ke rumahnya dengan menenteng
tiga bungkus nasi rames untuk ketiga adiknya yang masih kecil-kecil itu. Setelah makan bersama, ia pun kembali menjajakan korannya sampai menjelang tengah hari.

Begitulah yang dilakukan oleh Darman pada setiap harinya. Menjelang Maghrib, ia selalu mengajak ketiga adiknya untuk mengaji di surau Ustadz Samsuri, lelaki paruh baya yang tak bosan-bosannya
mengajarkan Darman dan ketioga adiknya mengaji, ditambah dengan membaca dan
menulis. Oleh karena itu, walau tak pernah mendapatkan rapor sebagaimana anakanak
yang bersekolah pada umumnya, namun, Darman dan ketiga adiknya boleh dikata cukup menguasai beragam pelajaran yang diberikan di sekolah.

Oleh karena itu, wajar, jika Darman dan ketiga adiknya menganggap Ustadz Samsuri sebagai ayah angkatnya …. Tenyatra tak hanya itu, diam-diam,. Apa yang dilakukan Darman selama ini menjadi
pendorong bagi kedua adiknya, Tato dan Robin, untuk meniru jejak sang kakak. Tato
dan Robin bertekad, setelah lancer mengaji, serta membaca dan menulis, keduanya
akan bekerja di toko hasil bumi yang ada di kotanya — tujuannya satu, mereka bertiga
akan menjadikan Darto sebagai orang yang berguna.

Setelah mantap, maka, ketiganya langsung menghadap Ustadz Samsuri untuk mengutarakan segala keinginannya. Mulanya, Ustadz Samsuri melarang dengan alasan belum waktunya ketiganya berjuang
sekeras itu — mengingat Undang-undang Tenaga Kerja juga melarang anak di bawa umur untuk bekerja. Tetapi apa daya, tekad ketiganya seolah tak terbendung lagi. Apalagi, Darman bersikeras untuk mengadu
nasib di Jakarta.

Singkat kata, Darman pun berangkat ke Jakarta, sedang Tato dan Robin bekerja di toko hasil bumi. Melihat kesantunan dan kepolosan keduanya, sontak, sang juragan pun memberikan perhatian lebih kepada
mereka. Bisik-bisik di antara pekerja pun merebak.
“Jangan-jangan bakal dijadikan tumbal berikutnya,” demikian kata Tarjo, salah seorang yang telah lumayan lama bekerja di tempat itu.

“Hush ..,” sergah yang lain mengingatkan.
“Lihat saja nanti,” sambung Tarjo jumawa.

Lama-lama, bisik-bisik itupun sampai ke telinga Tato dan Robin. Hati keduanya langsung kecut. Untuk menenteramkan hati, Tato langsung menceritakan hal itu lewat SMS kepada sang kakak, Darman.
Darman mengingatkan agar keduanya tak berburuk sangka apalagi kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya.

Jawaban sang kakak, membuat Tato dan Robin menjadi tenang. Mereka tak pernah lagi memikirkan
bisik-bisik yang semakin ramai di kalangan pekerja. Hingga pada suatu malam, entah
kenapa, malam itu, Robin merasa suasana kamar jadi teramat pengap. Ia langsung
meminta izin kepada sang kakak untuk tidur di luar, tepatnya di gudang. Apalagi, sudah  tiga hari Tato mengidap batuk dan demam.

Seiring malam yang semakin tua, kegelisahan yang melanda hati Robin pun kian menjadi-jadi. Ia pun langsung melantunkan ayat-ayat yang dihapalnya untuk menenangkan diri. Kemudian, di
antara sadar dan tidak, mendadak ujung mata Robin melihat kelebat sesosok tubuh
tinggi besar dengan pendar kehijauan melintas sambil menyisakan bau busuk yang teramat menyengat.

“Astagfirullah,” hanya itulah yang terlontar dari mulut Robin. Dan ia langsung menyambungnya dengan kalimat; “Allah …Allah … Allah,” sampai tertidur.

Sementara, di tempat yang lain, Tato yang tengah terlena tidak menyadari betapa maut tengah mengintainya. Dan benar, dalam hidungan detik, tubuh tinggi besar yang memendarkan cahaya kehijauan
itu langsung menerkam batang lehernya.
Tato tak sempat melawan … dan tak lama kemudian, ia pun meregang nyawa dengan wajah kesakitan yang teramat sangat.
Bersamaan itu, disertai kesiur angin yang teramat keras, tubuh yang memendarkan cahaya kehijauan itu menghilang dengan meninggalkan bau busuk yang teramat menyengat.
Paginya, semua menjadi heboh. Robin yang baru saja mendirikan salat Subuh dan berniat membangunkan Tato, langsung berteriak; “Tolong … tolong!”

Semua pegawai yang menginap langsung saja menghambur ke arah Robin. Ketika melihat keadaan Tato yang sudah terbujur kaku dengan tubuh membiru, semuanya hanya bisa berkata; “Sabar… dan semoga almarhum mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.”
Tak berapa lama, tampak berjalan tergopoh-gopoh sang juragan.

“Astagfirullah … kalau sakit, kenapa tidak bilang. Harusnya bilang dan langsung ke dokter,” demikian katanya dengan wajah penuh perhatian.
Robin hanya tergugu. Ia langsung menelepon Darman untuk memberitahu dan meminta pertimbangan untuk
pemakaman Tato. Akhirnya diputuskan, hari itu juga, Tato segera dimakamkan di TPU yang ada di desanya dan berdekatan dengan makam kedua orang tuanya. Dan semua biaya menjadi tanggung jawab sang
juragan — selain itu, Robin mendapatkan cuti khusus selama satu minggu.

Esoknya, ketika Darman datang, Robin hanya bisa memeluknya sambil menangis pilu dan meminta maaf karena tidak bisa menjaga almarhum kakaknya dengan baik.
“Ikhlaskan … jika itu kehendak Allah. Tetapi jika karena sebab lain, aku bakal bela pati,”demikian desis Darman.

Ustadz Samsuri yang mendengar  desisan itu langsung menggamit bahu Darman sambil berkata; “Ikhlaskan, biarkan Allah yang menghukumnya.”
Darman hanya mengangguk dengan lesu. Hatinya langsung dingin ketika berhadapan, menatap sambil
mendengarkan kata-kata sang Ustadz.

Hanya sehari Darman tinggal di kampung halamannya, esoknya, sebelum pulang, ia berpesan kepada Robin; “Kalau engkau akan kembali bekerja di sana, kembalilah. Tapi ingat, begitu merasa sakit, kembalilah pulang ke rumah.”
“Baik Cak,” aku akan selalu mengingat pesanmu.

Seperti biasa, setelah berziarah di makam ayah, ibu dan adiknya serta memohon doa restu dan menitipkan kedua adiknya kepada Ustadz samsuri, Darman pun berangkat menuju ke Jakarta. Sekali
ini, di Terminas Bus antar kota, ia berjumpa dengan Tono, sahabatnya yang ketika kecil
sama-sama menjajakan koran di terminal.

Setelah saling menanyakan kabar masing-masing, akhirnya, Tono pun menanyakan
kenapa Darman pulang ke kampung halamannya. Dengan singkat, Darman pun
menceritakan musibah yang baru saja menimpanya.

Tono pun berkata; “Kalau Robin sakit dan kamu pulang, jangan lupa temui aku di sini.”
“Ingat itu,” imbuhnya lagi. Darman hanya mengangguk dan segera menaiki bus yang akan membawanya ke
Jakarta.

Kelelahan tubuh dan beratnya pikiran, membuat Darman langsung tertidur dengan lelap.
Dan benar, enam bulan kemudian, ia mendapatkan SMS yang isinya Robin
terserang batuk dan demam tinggi. Darman tak mau berlama-lama, ia segera
menelepon dan meminta Robin untuk segera pulang ke rumahnya detik itu juga.

Robin menuruti segala pesan sang kakak, setelah mengutarakan niatnya kepada sang
juragan dengan alasan rindu kepada Darto, si bungsu, akhirnya, ia pun mendapatkan
izin.
Pada saat yang sama, setelah menelepon Ustadz Samsuri dan sahabatnya, Tono, Darman pun langsung
berangkat ke Surabaya. Singkat kata, ketika bertemu dengan Tono, lelaki yang sejak muda memang gemar menggeluti kebatinan ini langsung menuliskan huruf Jawa di secarik kertas putih; Nga Tha Ba Ga
Ma, Nyo, Yo Jo Dha Pa, La Wa Sa Ta Dha, Ko Ro Co No Ho.

“Ilmu ini dikenal orang dengan sebutan Caraka Balik. Ilmu tua yang ampuh untuk
memerangi segala gangguan iblis dan setan,” demikian turu Tono.
“Caranya?” Potong Darman.
“Tiap tengah malam, kelilingi rumahmu sambil membaca mantra di atas sebanyak
tujuh kali sambil menggenggam garam. Setelah itu, taburkan garam yang tadi
dibawa ke empat penujru rumah,” ungkap Tono dengan wajah serius.

Darman langsung pulang ke rumahnya disambut oleh Ustadz Samsuri. Ia langsung
meminta izin untuk melakukan ritual, walau dilarang, tetapi, Darman nekat untuk
melakukannya. Malam pertama, tak ada kejadian apapun. Begitu juga malam yang
kedua — menjelang malam yang ketiga,godaan pun mulai datang. Seiisi rumah
ditimpa olah rasa kantuk yang teramat sangat. Rasa kantuk itu kian menjadi-jadi
menjelang tengah malam — Darman yang sudah bertekad bela pati pun bertahan
dengan melafalkan Caraka Balik berulangulang.

Tepat tengah malam, ia pun kembali berjalan mengelilingi rumahnya sambil
membaca Cara Balik. Pada putaran yang kelima, ia melihat tubuh besar dengan
pendar kehijauan dan bau busuk teramat sangat berusaha masuk ke halamannya.
Sekali ini makhluk kegelapan tersebut kena batunya. Pagar gaib yang dibuat
oleh Darman membuatnya berulangkali terpental … dan tepat pada putaran
ketujuh, Darman yang sudah jengkel dan muak terhadap makhluk yang membunuh
adiknya itu langsung menyambitkan garam yang digenggamnya ke arah makhluk
berpendar kehijauan itu.

Disertai lolongan panjang, makhluk itu langsung menjauh dengan tubuh terbakar
bak obor raksasa. Nun jauh disana, rumah juragan hasil bumi, mendadak terbakar
tanpa sebab yang jelas. Api dengan cepat membakar seluruh bangunan tanpa
menyisakan apapun. Sang juragan serta istrinya mati terpanggang ….
Tak ada yang bisa menepis, sampai sekarang, Caraka Balik masih sering digunakan banyak orang sebagai penangkal ilmu hitam….

0 Response to "Cerita Misteri - Buto Ijo Merenggut Nyawa Adikku Sebagai Tumbal"

Post a Comment

Tulis Tanggapan Anda Tentang Postingan Diatas