loading...
Mau Punya Penghasilan 250ribu/Minggu Klik DISINI

Sejarah Pringgondani

Menurut riwayat yang berkembang, kompleks pertapaan Pringgodani merupakan wilayah kekuasaan Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit yang terakhir) pada masa pelariannya dari Kerajaan Majapahit. Daerah tersebut kemudian diserahkan kepada adiknya yang bernamaKoconegoro sebagai ungkapan terima kasih atas pengorbanannya terhadap Kerajaan Majapahit. 

Sejak Majapahit runtuh, Prabu Brawijaya V melarikan diri ke Gunung Lawu sampai meninggal dengan muksa (jiwa dan raganya masuk dalam alam gaib) selama 7 tahun. Setelah itu kadang-kadang Prabu Brawijaya V menampakkan diri di sekitarSendang Wali sampai Hargo Dumilah.

Menurut masyarakat setempat “Pringgodani” merupakan gabungan dari kata-kata: Pring, Nggon, dan Ndani. Pring (Bahasa Indonesia = bambu) karena pring atau bambu adalah benda yang bisa dibuat apa saja, seperti manusia yang bisa berbuat apa saja; sedangkan kata nggon adalah bahasa Jawa yang artinya tempat, dan ndani adalah singkatan dari kata Jawa ndandani, yang berarti memperbaiki. Jadi, pringgodani adalah tempat bagi manusia untuk memperbaiki diri. Sedangkan namaKoconegoro atau sering juga disebut Eyang Panembahan Koconegoro hanyalah mitos. Sebab nama tersebut hanyalah sebuah perumpamaan, yakni: eyang artinya yang dituakan(yang tua), panembahan berarti tempat, koco berarti cermin, dan negoro artinya diri kita. Jadi, dapat diartikan sebagai tempat yang dituakan (dikeramatkan) dan bermanfaat untuk bercermin (memperbaiki) diri kita.


Mengenai pamuksan (menghilang)nya Prabu Brawijaya V ini ada keterangan lain bahwa pada pintu masuk Sanggar Pamelengan tertulis Dwi Jalmo Ngesti Sawiji. Tulisan tersebut dapat diartikan sebagai dua sosok manusia menyembah kepada yang satu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Namun sumber lain menjelaskan bahwa kata tersebut merupakan sengkalan angka tahun, yaitu dwi berarti 2 (dua), jalmo artinya 2 (dua), ngesti sama dengan 8 (delapan),dan sawiji artinya 1 (satu).Angka itu kalau dirangkai adalah 2281, dan karena sengkalan angka tahun maka cara membacanya harus dibalik yaitu 1822. Maksudnya pada tahun 1822 M itulah tempat ini dijadikan sebagai tempat moksa Prabu Brawijaya V.


Menurut cerita masyarakat, Pertapaan Pringgodani mempunyai kaitan dengan cerita Prabu Boko. Dahulu ada seorang raja yang bernama Prabu Boko yang mempunyai kebiasaan memakan manusia. Karena kegemaran yang tidak wajar itu, maka penduduk di sekitarPertapaan Pringgodani (Kalurahan Blumbang dan Pancot) habis dimangsanya. Tinggallah seorang yang bernama Mbok Rondho Dadapan, dengan putrinya yang masih berusia 7 bulan yaitu Harwati. Pada saat itu Prabu Boko juga hendak memangsa Harwati, namun Mbok Rondho Dadapan menolak dan minta waktu tujuh hari. Pada saat itulah seorang pertapa dari Pringgodani turun gunung. Sang pertapa bersedia menolong mbok Rondho dengan cara menjelma sebagai Harwati dan bersedia menjadi mangsa Prabu Boko. Ketika Prabu Boko datang dan hendak memangsa Harwati tiba-tiba tangan anak tersebut memegang kepala Prabu Boko dan dibantingkan pada batu gilang yang terdapat di Desa Pancot. Kepala Prabu Boko remuk, mata dan otaknya menjadi batu kapur di Gunung Gamping, taringnya menjadi tanaman bawang, gigi geraham menjadi brambang, dan tubuhnya menjadi palawija. Dengan tewasnya Prabu Boko, masyarakat Pancot dan Blumbang merasa aman, maka sang pertapa kembali ke pertapaannya di Pringgodani.


Merasa desanya dilindungi oleh pertapa, maka penduduk Desa pancot dan Blumbang sampai sekarang mengadakan upacara yang diselenggarakan setiap hari lahirnya sang Pertapa yaitu Hari Selasa Kliwon pada (kalender Jawa). Upacara itu diadakan dengan harapan agar masyarakat selalu merasa aman, mendapat rezeki, dan berkah. Masyarakat juga mempercayai bahwa berbagai tempat yang dikeramatkan di lokasi tersebut juga mempunyai makna yang berbeda-beda. Hal ini sangat tergantung pada motif kedatangan dan tujuan para pengunjung, serta aliran kepercayaan yang diyakininya. Ada pengunjung yang motif kedatangan dan tujuannya untuk mencari ketenteraman batin, ada yang mencari ilmu gaib, dan ada juga yang datang untuk berobat.