loading...
Mau Punya Penghasilan 250ribu/Minggu Klik DISINI

Asal Usul Dan Kisah Hidup Jokowi Yang Perlu Kamu tau



Kisah Hidup Jokowi - Masa kecil Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai. Ia tau bagaimana menjadi orang miskin dalam artian yang sebenarnya.

Bapaknya penjual kayu di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke pasar, pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat, diusiri tanpa rasa kemanusiaan, pedagang ketakutan untuk berdagang. Ia prihatin, ia merasa sedih kenapa kota tak ramah pada manusia.

Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk dikumpulkan biaya sekolah, ia mandiri sejak kecil tak ingin menyusahkan bapaknya yang tukang kayu itu. Ia mengumpulkan uang receh demi receh dan ia celengi di tabungan ayam yang terbuat dari gerabah. Kadang ia juga mengojek payung, membantu ibu-ibu membawa belanjaan, ia jadi kuli panggul. Sejak kecil ia tau bagaimana susahnya menjadi rakyat, tapi disini ia menemukan sisi kegembiraannya.

Ia sekolah tidak dengan sepeda, tapi jalan kaki. Ia sering melihat suasana kota, di umur 12 tahun dia belajar menggergaji kayu, tangannya pernah terluka saat menggergaji, tapi ia senang dan ia gembira menjalani kehidupan itu, baginya “Luwih becik rengeng-rengeng dodol dawet, tinimbang numpak mercy mbrebes mili”. Keahliannya menggergaji kayu inilah yang kemudian membawanya ingin memahami ilmu tentang kayu.

Lalu ia berangkat ke Yogyakarta, ia diterima di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, jurusan kehutanan. Ia pelajari dengan tekun struktur kayu dan bagaimana pemanfaatannya serta teknologinya. Di masa kuliah ia jalani dengan amat prihatin, karena tak ada biaya hidup yang cukup. Kuliahnya disambi dengan kerja sana sini untuk biaya makan, ia sampai lima kali indekost karena tak mampu biaya kost dan mencari yang lebih murah.

Hidup dengan prihatin membawanya pada situasi disiplin, Jokowi mampu menerjemahkan kehidupan prihatinnya lewat bahasa kemanusiaan, bahwa dalam kondisi susah orang akan menghargai tindakan-tindakan manusiawi, disinilah Jokowi belajar untuk rendah hati.

Setamat kuliah ia tetap menjadi tukang gergaji kayu, tapi ia sudah memiliki wawasan, ia melihat industri kayu berkembang pesat, ia mendalami mebel. Disini ia pertaruhkan segalanya, rumah kecil satu-satunya bapaknya ia jaminkan ke Bank. Dan ia berhasil, ia bukan saja tapi ia juga pengambil resiko yang cerdas, ia berhasil dari sebuah bengkel mebel dengan gedek disamping pasar yang kumuh berhasil dikembangkan. Ia menangis ketika pekerja-pekerjanya bisa makan.

Suatu saat ia kedatangan orang Jerman bernama Micl Romaknan, orang Jerman ini kebetulan tidak membawa grader (ahli nilai) kayu, ia ngobrol dengan Jokowi, kata orang Jerman itu : “Wah, di Jepara saya ketemu orang namanya Joko, baiklah kamu kunamakan saja Djokowi, kan mirip Djokovich” akhirnya terciptalah sebuah nickname Jokowi yang melegenda itu.

Perkembangan bisnisnya bagus, ia dipercaya kerna ia jujur, orang Jerman suka dengan orang yang jujur dan pekerja keras, Jokowi hanya tidur 3 jam sehari, selebihnya adalah kerja. Ia tak pernah makan uang dari memeras atau pungli, ia makan dari keringatnya sendiri. Dengan begitu hidupnya berkah. Jokowi berhasil mengekspor mebel puluhan kontainer dan ia berjalan-jalan di Eropa.

Tidak seperti kebanyakan orang Indonesia yang mengunjungi Eropa dengan cara hura-hura atau foto sana, foto sini tanpa memahami hakikat masyarakatnya. Jokowi di Eropa berpikir reflektif. “Kenapa kota-kota di Eropa, kok sangat manusiawi, sangat tinggi kualitasnya baik kualitas penghargaan terhadap ruang gerak masyarakat sampai dengan kualitas terhadap lingkungan” lama ia merenung ini, akhirnya ia menemukan jawabannya “Ruang Kota dibangun dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran”. Tiga cara itulah yang kemudian dikembangkan setelah ia menduduki jabatan di Solo.

Setelah sukses di bisnis, Jokowi berpikir “Bagaimana ia bisa berterima kasih pada bangsanya” lalu ia mendapatkan jawabannya, bahwa contoh terbaik untuk berterima kasih adalah menjadi pemimpin rakyat yang bertanggung jawab. Lalu ia masuk ke dalam dunia politik dengan seluruh rasa tanggung jawab. Pertanggung jawaban politiknya adalah pertanggungjawaban moral bukan karena ia mencari hidup dalam dunia politik, ia ikhlas dalam bekerja, baginya inilah cara berterima kasih pada bangsanya.

Ia masuk ke dalam dunia politik, awalnya tidak dipercaya, karena sosoknya lebih mirip tukang becak alun-alun kidul tinimbang seorang gagah yang hebat, dalam masyarakat kita, sosok dengan ‘bleger’ yang besar lebih diambil hati ketimbang orang dengan sosok kurus, ceking dan tak berwibawa itulah yang dialami Jokowi, tapi beruntung bagi Jokowi, saat itu masyarakat Solo sedang bosan dengan pemimpin lama yang itu itu saja, mereka mencoba sesuatu yang baru. Akhirnya Jokowi menang tipis.

Masyarakat mempercayainya dan ia menjawabnya dengan “Kerja” ia siang malam bekerja untuk kotanya, ia datangi tanpa lelah rakyatnya, ia resmikan gapura-gapura pinggir jalan, ia hadir pada selamatan-selamatan kecil, ia terus diundang bahkan untuk meresmikan pos ronda sebuah RW sekalipun. Ia bekerja dari akarnya sehingga ia mengerti anatomi masyarakat.

Suatu hari Jokowi didatangi Kepala Satpol PP. Kepala Satpol itu meminta pistol karena ada perintah pemberian senjata dari Mendagri. Jokowi meradang dan menggebrak meja “Gila apa aku menembaki rakyatku sendiri, memukuli rakyatku sendiri…keluar kamu…!!” kepala Satpol PP itupun dipecat dan diganti dengan seorang perempuan, pesan Jokowi pada kepala Satpol PP perempuan itu “Kerjalan dengan bahasa cinta, kerna itu yang diinginkan setiap orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawaban, masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia mencintai dirinya, lingkungan dan Tuhan. Dari hal-hal inilah Jokowi membangun kota-nya, membangun Solo dengan bahasa cinta….”.

Apakah di Jakarta ia tak bakalan mampu? banyak yang nyinyir bahwa Solo bukan Jakarta. Tapi apa kata Jokowi “Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan”

Jokowi berangkat dalam alam paling realistisnya. Kepemimpinan yang realistis, bertanggungjawab dan kredibel. Beruntung Indonesia masih memiliki Jokowi, pada Jokowi : “Merah Putih ada harapan berkibar kembali dengan rasa hormat dan bermartabat sebagai bangsa.

Asal Usul Jokowi
Mendadak Nama Jokowi Melambung, terkenal ke seluruh Negeri, Jokowi atau Joko Widodo, salah satu kader PDI perjuangan yang kemudianterpilih dan menjadi Walikota Solo. Jokowi Namanya melambung sejak diberitakan di berbagai media tentang Mobil KIAT EsEmKa. Jokowi meniti pendidikannya di Solo dan Yogjakarta, dari Data di media massa begitu banyak bercerita tentangnya. Mulai perjalanan awalnya di SD N 111 Tirtoyoso, SMP N 1 Surakarta, SMA N 6 Surakarta hingga menuntut ilmu di Fakultas Kehutanan Uiversitas Gadjah Mada, Yogjakarta. Joko dikenal pada dunia eksportir meubel yang dijalaninya sejak 1988 hingga sekarang. Aktivitas itu jugalah yang membuat Joko Widodo mendirikan Koperasi Pengembangan Industri Kecil Solo pada 1990.

Dunia bisnis juga yang membuatnya terpilih menjadi salah satu ketua di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surakarta, dan mendirikan Asosiasi Permebelan dan Industri Kerajinan Indonesia Surakarta di awal tahun 2000. Karier tertinggi laki-laki kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961 ini adalah ketika dirinya terpilih sebagai Walikota Surakarta di tahun 2005. Sejak dipimpin Joko, Solo banyak mengalami perubahan di berbagai sektor riil. Begitu juga bidang layanan publik. Utamanya, saat Joko membuat keputusan untuk memudahkan pembuatan KTP bagi warga Solo. Jokowi memilih untuk berada pada pihak pedagang kecil, ketimbang pengusaha. Joko bahkan rela berbeda pendapat dengan Gubernur Bibit Waluyo tentang rencana pembangunan mall di bekas bangunan Pabrik Es Saripetojo. Joko menolak rencana yang merupakan bagian dari desain besar pemerintahan provinsi Jawa Tengah itu. Pada Pilkada Solo Silam Jokowi meraih dukungan 91 persen suara dalam Pilkada Solo.

Asal Usul Labelisasi Baju Kotak-kotak
Ilham untuk menggunakan baju kotak-kotak berawal dari ketidak sengajaan. Awalnya pasangan ini hanya berniat untuk tampil beda dari pasangan lainnya saat melakukan pendaftaran cagub/cawagub ke Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jakarta. Tujuan pertama saat datang ke KPUD itu mengenakan pakaian yang ngejreng. Pasti orang-orang datang pakai jas atau putihlah. Ahok menjelaskan bahwa mereka memilih baju kotak-kotak karena ingin menunjukkan kesiapan mereka dalam bersaing. Pasalnya baju kotak-kota warna merah itu adalah lambang dari kesiapan. Karena banyak pendukung dan masyarakat yang mengidentikan baju kotak-kotak itu dengan Jokowi-Ahok, maka mereka memilih baju itu untuk media berkampanye. Ternyata, ketidaksengajaan ini membawa berkah untuk mereka. Terbukti, sejak masa kampanye dimulai pasangan calon ini mulai menyebarkan trend baju kotak-kotak. Banyak pendukung dan simpatisan mulai menggunakan baju kotak-kotak sebagai wujud dukungannya kepada calon Gubernur DKI Jakarta asal Solo, Jawa Tengah ini.

Jokowi Pada Pilgub DKI Jakarta Putaran Pertama
Pada Pilkada Gubernur Putaran Pertama Jumlah suara sah adalah 65%, suara tidak sah 1%, dan suara yang tidak digunakan adalah 34% . Pasangan Jokowi berhasil mengumpulkan suara terbanyak sebanyak 42,59% , disusul jumlah suara Foke – Nara 34,32% pada peringkat kedua terbanyak.

Jokowi Bersama pasangannya Ahok Kini siap-siap menghadapi pertarungan Pada Pilkada Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 20 September 2012 mendatang, Apakah Jokowi – Ahok masih mampu “mengalahkan” Foke – Nara pada Pilgub putran kedua ini???, kita nantikan serahkan saja kepada Wajib Pilih DKI, siapapun yang naik, baik Jokowi maupun Foke, semoga bisa membawa ibukota Negara Kita makmur dan beradab.[ps]

0 Response to "Asal Usul Dan Kisah Hidup Jokowi Yang Perlu Kamu tau"

Post a Comment

Tulis Tanggapan Anda Tentang Postingan Diatas