loading...
Mau Punya Penghasilan 250ribu/Minggu Klik DISINI

Kisah Prabu Angling Dharma

Kelahiran Prabu Angling Dharma
Sebelum Angling Dharma lahir, terdapat sebuah kerajaan yang dikenal dengan Kerajaan Hastina. Kerajaan Hastina saat itu dipimpin oleh Raja yang dikenal dengan Raja Parikesit. Semenjak Parikesit mempunyai beberapa orang putra, kehidupan disekitar kerajaan mulai memburuk karena terjadi persaingan perebutan tahta kerajaan. Raja Parikesit mewariskan tahtanya kepada putranya Yudayana. Ketika masa kepemimpinan Yudayana dimulai, kerajaan hampir mengalami kehancuran sehingga Raja Yudayana  sampai berani mengubah nama kerajaannya menjadi Kerajaan Yawasita. Perubahan nama kerajaan dilakukan bermaksud agar masa depan kerajaan yang dipimpin raja Yudayana semakin membaik. Namun kenyataannya masa depan kerajaan Yawasita tetap tidak jaya. Sehingga tahta Raja Yudayana dia berikan kepada saudaranya Gendrayana yang dulu pernah bersaing dengan Yudayana.

Pada masa pemerintahan Raja baru Gendrayana, lingkungan kerajaan semakin membaik dan mulai ada perubahan yang lebih sejahtera. Hal itu dibuktikan dengan tidak adanya rakyat yang mengalami kelaparan dan kemiskinan. Namun, masa kepemimpinan Gendrayana tidak terlalu lama karena dia menghukum adiknya sendiri yang bernama Sudarsana dengan dasar kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Mendengar berita itu, Batara Narada atau seorang pendeta dari kahyangan yang bijaksana datang ke kerajaan Yawastita untuk mengadili Gendrayana. Sebagai hukumannya, gendrayana dibuang ke hutan oleh Batara Narada. Sedangkan adiknya Sudarsana dijadikan sebagai pengganti Gendrayana. Gendrayana mengajak beberapa pengikut setianya untuk hidup bersamanya dan membuat kerajaan baru suatu hari nanti.

Di dalam hutan, Gendrayana berjuang keras bersama pengikut-pengikutnya membuat sebuah kerajaan yang akan berdiri kokoh. Setelah beberapa tahun, akhirnya sebuah kerajaan berhasil berdiri atas perjuangan keras yang dilakukan Gendrayana. Kerajaan tersebut diberi nama Kerajaan Mamenang oleh Gendrayana. Dan raja pertama yang menduduki pada masa itu adalah Gendrayana sendiri. Bahkan sampai Ratusan tahun kerajaan Mamenang berhasil memakmurkan rakyatnya dan selalu unggul dalam persaingan dengan kerajaan Yawasita. Setelah mengalami masa kejayaan, Gendrayana dikaruniai seorang putra yang diberi nama Jayabaya. Gendrayana mewariskan tahtanya kepada Jayabaya. Sedangkan Raja Sudarsana juga menyerahkan tahtanya kepada putranya yaitu Sariwahana. Kamudian Sariwahana mewariskan tahtanya kepada putranya Astradama karena Sariwahana tidak terlalu suka menjadi seorang raja. Pada masa pergantian tahta, kedua kerajaan ini sering terlibat dalam perang saudara. Perang saudara ini sampai bertahan hingga puluhan tahun dan tetap saja tidak selesai-selesai.

Akhirnya kedua kerajaan ini damai atas bantuan dari Hanoman yang telah bertapa lebih dari ratusan tahun. Hanoman melakukan tindakan yang berhasil mewujudkan perdamaian antara kerajaan Yawastina dengan kerajaan Mamenang dengan cara perkawinan salah satu anggota kerajaan. Yaitu Astradarma dinikahkan dengan Pramesti, Putra Jayabaya.

Setelah menikah, Pramesti bermimpi bertemu dengan Batara Wisnu. Batara Wisnu berkata bahwa dia akan dilahirkan di dunia melalui rahimnya sendiri. Dengan adanya kejadian mimpi tersebut, tiba-tiba perut Pramesti membuncit dan didalam rahimnya ada jabang bayi. Sontak Astradarma menuduh Pramesti selingkuh dengan orang lain. Sehingga Astradarma mengsusir istrinya untuk pulang kembali ke negerinya. Saat Jayabaya menemui putrinya berjalan menuju ke istananya dengan keadaan hamil dan lemas, Jayabaya sangat murka kepada Raja Astradarma. Kemudian Jayabaya mengutuk kerajaan Yawastina tenggelam oleh banjir bandang yang besar. Tak lama kutukan itu pun terjadi dan menimpa kerajaan Yawastina. Akhirnya Raja Astradarma dengan seluruh rakyatnya terhempas dan menghilang bersama istananya karena banjir yang melanda kerajaannya. Begitulah berakhirnya kerajaan Yawastina.

Setelah runtuhnya kerajaan Yawastina, Pramesti melahirkan seorang putra yang diberi Angling Dharma. Angling Dharma merupakan bayi titisan Dewa Wisnu yang memiliki kekuatan-kekuatan yang luar biasa. Angling Dharma dilahirkan bersamaan dengan kematian kakeknya Jayabaya. Setelah meninggalnya Jayabaya, tahta kerajaan Mamenang kemudian diserahkan kepada Jaya Amijaya (Saudara Pramesti).


Perjalanan Hidup Prabu Angling Dharma
Pada masa kecil sampai remaja Angling Dharma sering sekali membantu sesama temannya. Dia selalu meberantas kejahatan meskipun usia Angling Dharma masih sangat muda. Banyak sekali perampok-perampok yang berhasil dia kalahkan. Sehingga dia sangat disegani oleh banyak masyarakat yang telah dibantunya. Pada saat masuk usia remaja, Angling Dharma mulai melatih dan mengasah kemampuannya dalam dunia persilatan dan kekuatan dalam. Dengan dibekali keahlian sejak kecil, Angling Dharma sangat mudah mempelajari berbagai macam jurus yang diajarkan oleh gurunya, yaitu Begawan Maniksutra. Dia juga diajarkan gurunya untuk berburu yang baik dan tidak merusak alam. Hanya berburu dalam waktu 30 menit, Angling Dharma berhasil melumpuhkan seekor singa yang besar.

Angling Dharma sering sekali membunuh hewan setelah dia bisa berburu. Dalam sehari, Angling Dharma selalu membantai 3 ekor singa. Mengetahui hal tersebut, guru memarahi Angling Dharma sampai-sampai Angling Dharma tidak mau berlatih dengan gurunya sendiri. Selama lebih dari 2 tahun, Begawan Maniksutra berhasil menguasai berbagai macam ilmu tenaga dalam dan jurus-jurus yang sangat hebat. Suatu hari Begawan memergoki Angling Dharma sedang berburu dan membawa 2 ekor singa yang diikat tali oleh Angling Dharma. Begawan Maniksutra langsung menghalangi langkah kaki Angling Dharma yang penuh dengan keringat.

"Dharma! berhenti di situ!" teriak Begawan Maniksutra.
"Sedang apa kamu di sini? Menyingkirlah kamu dari jalanku," kata Angling Dharma.
"Dasar anak kurang ajar! lepaskan kedua singa itu. Atau kamu ..."
"Aku apa? Saya tidak takut denganmu walau aku pernah berguru kepadamu," Angling Dharma memotong pembicaraan Begawan.
"Memang semakin besar kamu semakin kurang ajar. Rasakan i..." tiba-tiba dipotong Angling Dharma.
"Rasakan apa? Saya tidak takut walaupun engkau hebat." Angling Dharma tertawa sambil melihat jurus yang dilakukan oleh Begawan Maniksutra.
"Mana ilmumu wahai guru?" Angling Dharma bertanya.
"Lihat sekelilingmu," kata Begawan. Angling Dharma terkejut melihat tali yang diikatkan ke leher singa tiba-tiba menghilang. Sontak Angling Dharma langsung berlari menghindar dari kejaran dua ekor singa yang telah diburunya. Setelah jauh berlari, akhirnya Angling Dharma berhasil lolos dari kejaran singa. Tiba-tiba Begawan Maniksutra berada di depan Angling Dharma. Angling Dharma langsung meminta kepada Begawan Maniksutra untuk menerima dirinya kembali sebagai muridnya. Selama Angling Dharma menjadi murid Begawan Maniksutra, dia diajarkan ilmu-ilmu yang dimiliki Begawan Maniksutra agar bisa meneruskan ilmu untuk para pemuda-pemuda yang berjuang mempertahankan negeri.

Akhirnya Angling Dharma berhasil menguasai seluruh ilmu dan jurus-jurus yang diajarkan oleh Begawan Maniksutra. Kemudian dengan tekat dan keberanian Angling Dharma, dia ingin membangun sebuah negeri baru karena mengetahui sejarah negeri kakeknya yang dulu sering berselisih dengan kerajaan lain. Angling Dharma ingin menciptrakan sebuah negeri yang damai dan makmur bagi rakyatnya.

Setelah Angling Dharma memasuki masa dewasa, Angling Dharma berniat membawa ibunya pindah ke negeri yang telah dibangunnya sendiri. Negeri tersebut diberi nama Malawapati. Di sana, Angling Dharma memimpin negerinya sendiri dan mengatur negerinya sendiri dengan memberi gelar Prabu Angling Dharma atau Prabu Ajidharma oleh dirinya sendiri. Setelah kerajaan Yawastina mengetahui kemakmuran yang terjadi pada kerajaan Malawapati, Jaya Amijaya sebagai raja Yawastina memberikan seperempat kekuasaannya kepada Angling Dharma untuk bermaksud memakmurkan rakyat barunya.

Walaupun dia sebagai raja, dia tetap tidak mau meninggalkan kebiasaannya untuk berburu. Angling Dharma senang sekali berburu pada malam hari karena pada malam hari hewan-hewan sangat mudah untuk diburu. Pada saat dia berburu, ia menemukan seorang gadis yang bersembunyi dari kejaran harimau. Lalu kemudian dia membawa gadis itu menuju ke tempat  yang aman dari jangkauan harimau. Selama perjalanan mereka saling berkenalan dan saling bercerita kesukaan mereka. Gadis itu ternyata bernama Setyawati yang ayahnya merupakan seorang pertapa sakti bernama Resi Maniksutra. Angling Dharma kemudian mengantarkannya pulang ke rumah. karena Angling Dharma merasa jatuh cinta kepada Setyawati dalam pandangan pertaa, Angling Dharma berniat untuk menjadikan Setyawati sebagai pendamping hidupnya.

Dan akhirnya Angling Dharma juga melamar Setyawati sebagai istrinya. Namun ada sedikit kendala saat akan mendapatkan Setyawati. Kakak Setyawati yang bernama Batikmadrim telah bersumpah bahwa barangsiapa yang ingin menikahi adiknya harus dapat mengalahkannya. Mengetahui sumpah tersebut, Angling Dharma memberanikan diri untuk melawan Batikmadrim demi mendapatkan Setyawati. Maka terjadilah pertandingan antara kakak Setyawati dengan Angling Dharma yang dimenangkan oleh Angling Dharma. Setelah itu, Setyawati menjadi permaisuri Angling Dharma dan sedangkan Batikmadrim diangkat sebagai patih di Kerajaan Malawapati.

Di lain hari, Angling Dharma memergoki istri Nagaraja yang bernama Nagagini sedang berselingkuh dengan seekor ular tampar (Nagaraja merupakan seorang guru yang tinggal di kerajaan Yawastina). Hal itu diketahui Angling Dharma saat Angling Dharma sedang berburu pada malam hari. Angling Dharma pun membunuh ular jantan tersebut demi kebaikan. Sedangkan Nagagini pulang dalam keadaan terluka. Nagagini kemudian menyusun sebuah laporan palsu kepada suaminya supaya membalas dendam kepada Angling Dharma yang telah membunuh temannya. Nagaraja pun menyusup ke dalam istana Malawapati. Namun saat menyusup ke dalam istana, Nagaraja menyaksikan Angling Dharma sedang membicarakan perselingkuhan Nagagini kepada Setyawati. Nagaraja pun sadar bahwa istrinya yang salah. Nagaraja pun muncul dan meminta maaf kepada Angling Dharma karena dia hampir saja membunuh Angling Dharma.

Pada saat itu juga Nagaraja mengakui bahwa dirinya akan meninggal karena dia telah memasuki masa moksa (Moksa adalah masa dimana arwah seseorang akan pergi dari raganya dan bereinkarnasi menuju ke manusia yang akan dilahirkan). Kemudian Nagaraja mewariskan ilmu kesaktiannya berupa Aji Gineng kepada Angling Dharma. Ilmu tersebut harus dijaga dengan baik dan penuh rahasia. Setelah mewariskan ilmu tersebut, Nagaraja pun meninggal. Jenazah Nagaraja kemudian dibawa ke rumah istrinya oleh Angling Dharma dan Angling Dharma menjelaskan kepada Nagagini apa yang sebenarnya terjadi sebelum suaminya meninggal.

Semenjak Angling Dharma mewarisi ilmu baru dari Nagaraja, dia dapat mengerti bahasa binatang. Pernah ia tertawa menyaksikan percakapan sepasang cicak. Hal itu membuat Setyawati tersinggung karena dirinya tidak pernah diperhatikan oleh suaminya semenjak dia memlihara banyak hewan dari hasil perburuannya. Angling Dharma menolak berterus terang karena terlanjur berjanji akan merahasiakan Aji Gineng. Hal itu membuat Setyawati bertambah marah. Setyawati pun memilih bunuh diri dalam api karena merasa dirinya tidak dihargai lagi oleh Angling Dharma. Angling Dharma berjanji lebih baik menemani Setyawati mati, daripada harus membocorkan rahasia ilmunya. Ketika upacara pembakaran diri digelar, Angling Dharma sempat mendengar percakapan sepasang kambing. Dari percakapan itu Angling Dharma sadar kalau keputusannya menemani Setyawati mati adalah keputusan yang tidak tepat dan bisa merugikan rakyat banyak.

Setelah kematian istrinya yang tragis, Angling Dharma menjalani hukuman buang untuk beberapa waktu sebagai penebus dosa. Hukuman itu meruupakan permintaan dari rakyatnya sendiri. Karena Angling Dharma telah mengingkari janji setia sehidup semati dengan istrinya sendiri. Walaupun Angling Dharma dihukum, dia tetap tidak lengser dari kursi rajanya. Kemudian Angling Dharma menitipkan istananya kepada Batikmadrim selama dia menjalani hukuman.

Dalam perjalanan, Angling Dharma bertemu tiga orang putri yang bernama Widata, Widati, dan Widaningsih. Ketiganya jatuh cinta kepada Angling Dharma dan menahannya untuk tidak pergi meninggalkan mereka.  Selama mereka saling mengenal, Angling Dharma meminta tolong kepada tiga putri tersebut untuk memberikan sebuah tempat tinggal untuknya. Akhirnya ketiga orang putri tersebut memberikan tempat tinggal untuk Angling Dharma. Namun semenjak tinggal bersama dengan tiga orang putri, Angling Dharma merasa ada yang ganjil saat putri-putri sering keluar pada malam hari. Kemudian Angling Dharma menyamar sebagai sosok burung gagak untuk menyelidiki kegiatan rahasia ketiga putri tersebut. Ternyata setiap malam mereka selalu berpesta makan daging manusia. Akhirnya kecurigaan Angling Dharma sudah terbukti. Tiga orang putri tadi merupakan penyihir yang suka memangsa manusia sebagai makanannya.

Saat Angling Dharma ketahuan sedang mengintip kegiatan mereka yang sedang makan daging manusia, Angling Dharma pun berselisih dengan mereka. Namun kekuatan Angling Dharma masih dapat dikalahkan oleh 3 orang penyihir. Akhirnya ketiga putri tadi mengutuk Angling Dharma menjadi seekor belibis putih. Belibis putih tersebut terbang sampai ke wilayah Kerajaan Bojanagara. Di sana, ia dipelihara seorang pemuda desa bernama Jaka Geduk. Jaka Gduk terkejut saat dia mengetahui belibis putih mampu berbucara kepadanya.

Pada saat itu, Darmawangsa yang sebagai raja Bojanagara sedang bingung menghadapi pengadilan yang di mana kasusnya merupakan seorang wanita bernama Bermani mempunyai dua orang suami yang berwujud sama dan bernama sama, yaitu Bermana. Kemudian pemuda desa tadi datang sambil membawa belibis putih untuk membantu raja dalam mengadili Bermani. Atas petunjuk belibis putih, Jaka Geduk berhasil membongkar Bermana palsu kembali ke wujud aslinya, yaitu Jin Wiratsangka. Atas keberhasilannya itu, Jaka Geduk diangkat sebagai hakim negara, sedangkan belibis putih diminta sebagai peliharaan putri raja Bojanagara yang bernama Ambarwati.


Keberhasilan Prabu Angling Dharma
Walaupun Angling Dharma telah berwujud belibis putih, dia sebenarnya bisa berubah ke wujud manusia pada malam hari saja. Namun Angling Dharma merahasiakan kelebihannya itu kepada siapapun kecuali Ambarawati. Setiap malam ia menemui Ambarawati dalam wujud manusia sehingga mereka berdua saling jatuh cinta. Mereka akhirnya menikah tanpa sepengetahuan orang tua Ambarawati. Dari perkawinan itu Ambarawati pun mengandung.

Darmawangsa heran dan bingung mendapati putrinya mengandung tanpa suami. Kebetulan saat dalam setiap kebingungan raja selalu ada jalan keluar dengan adanya orang ketiga. munculah seorang pertapa sakti yang bernama Resi Yogiswara mengaku siap menemukan ayah dari janin yang dikandung Ambarawati. Yogiswara kemudian mencari pelakunya. Resi mencurigai dengan adanya seekor belibis putih yang memiliki sebuah kalung yang sama seperti kalung Angling Dharma. Kemudian Resi Yogiswara menyerang belibis putih peliharaan Ambarawati. Setelah melalui pertarungan yang sengit, belibis putih kembali ke wujud semula yaitu Angling Dharma, sedangkan Yogiswara berubah menjadi Batikmadrim. Kedatangan Batikmadrim yang sebenarnya adalah untuk menjemput Angling Dharma yang sudah habis masa hukumannya.

Raja Darmawangsa justru menerima perlakuan Angling Dharma terhadap putrinya dan merestui hubungan mereka. Sehingga raja Darmawangsa melakukan acara pernikahan besar untuk menyambut Angling Dharma. Angling Dharma kemudian membawa Ambarawati pindah ke Malawapati. Dari perkawinan mereka, akhirnya lahir seorang putra yang bernama Anglingkusuma. Angling Kusuma akan menjadi penerus raja di kerajaan Bojanagara dan menggantikan kakeknya tersebut. Namun, selama Angling Kusuma menjadi raja, dia mempunyai musuh bernama Durgandini dan Sudawirat yang ingin menjatuhkan kerajaan Bojanagara.

Setelah kembalinya Angling Dharma ke Malawapati, kerajaan Angling Dharma berjaya dan mampu membantuk putranya dalam memerangi musuh-musuhnya dan akhirnya mereka berhasil menaklukan musuh-musuhnya. Dan saat itulah sudawirat terbuka hatinya untuk mengabdi kepada Kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Angling Dharma. Dan sedangkan Durgandini bersedia mengabdi pada kerajaan Bojanagara.