loading...
Mau Punya Penghasilan 250ribu/Minggu Klik DISINI

Usia Melahirkan dan Jumlah Anak Pengaruhi Kebahagiaan Orang Tua

Usia Melahirkan dan Jumlah Anak Pengaruhi Kebahagiaan Orang Tua - Sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh Western University menunjukkan bahwa tingkat kebahagiaan orang tua baru bervariasi satu sama lain dengan rentang luas bergantung pada usia mereka memiliki anak pertama serta berapa anak yang mereka miliki. 


Temuan dari peneliti bernama Rachel Margolis dari Western's Faculty of Social Science serta Mikko Myrskylä dari the London School of Economics serta Max Planck Institute for Demographic Research di Rostock, Jerman ini baru-baru ini diterbitkan di jurnal besar dalam bidang tersebut, Demography.

Penelitian tersebut menunjukkan serangkaian data dengan sejumlah besar sampel yang didapatkan dari Jerman dan Inggris. Hasilnya mengungkap bahwa kebahagiaan orangtua meningkat pada tahun sebelum dan setelah kelahiran anak pertama, lalu dengan cepat menurun dan kembali pada level kebahagiaan seperti sebelum mereka memiliki anak.

Dibandingkan laki-laki, wanita ternyata mendapatkan lebih banyak kebahagian saat mengharapkan kehadiran, dan segera setelah, kelahiran seorang anak. Para wanita ternyata juga memiliki penurunan yang lebih runcing dalam kebahagiaan mereka dibandingkan dengan kaum pria antara tahun kelahiran dengan tahun berikutnya, kemungkinan karena wanita mengawali dengan level kebahagiaan yang tinggi. Namun bagaimanapun, dalam jangka panjang, tidak dilihat adanya perbedaan antara tingkat kebahagiaan pria dan wanita.

Margolis menerangkan ada dua hasil utamanya. Pertama, orang-orang yang memiliki anak pada usia lebih tua atau yang lebih berpendidikan secara spesifik memiliki respon lebih positif terhadap kelahiran anak pertama. Orang tua yang memiliki anak pada usia yang bisa dibilang cukup terlambat, yakni antara rentang usia 35 hingga 49 tahun, memperoleh kebahagiaan lebih banyak selama waktu kelahiran dan tetap berada pada level kebahagiaan lebih tinggi setelah menjadi orangtua. 

Sebaliknya, mereka yang menjadi orang tua pada usia remaja secara dominan memiliki pola penurunan kebahagiaan yang tidak pernah meningkat melebihi batas bahkan selama tahun kelahiran. Sementara itu, mereka yang menjadi orang tua pada rentang usia 23 hingga 34 tahun memiliki level kebahagiaan yang meningkat pada saat kelahiran, namun setelah satu atau dua tahun setelah kelahiran anak pertama, kebahagiaan mereka menurun ke ambang batas atau bahkan di bawahnya.

Kedua, kebahagiaan orangtua berbeda-beda berasarkan pada anak keberapa yang tengah mereka lahirkan. “Yang kami lihat adalah jika sebuah perolehan kebahagiaan orangtua adalah sebesar X untuk anak pertama mereka, maka besaran kebahagiaan untuk anak kedua adalah setengah dari X. Sementara untuk anak ketiga, besarannya bisa dibilang tidak berarti,” terang Margolis. “Artinya, dalam soal penggambaran lintasan kebahagiaan, anak ketiga secara statistik tidak signifikan.”

Namun, Margolis menekankan, ini bukan berarti bahwa orang tua sebaiknya hanya memiliki dua anak saja. Namun, penemuan itu menunjukkan bahwa lintasan kebahagiaan setidaknya secara sebagian menjelaskan mengapa laju fertilitas kini semakin rendah dan lambat.

Selama lima puluh tahun terakhir ini, kita telah menyaksikan transisi fertilitas secara global, dari tingkat kesuburan tinggi hingga berubah ke rendah. Secara rata-rata, orang-orang di dunia kini memilih memiliki anak pada usia lebih tua dan lebih sedikit dibanding dengan generasi-generasi sebelumnya. 

“Faktanya adalah, di antara orang tua yang lebih berpendidikan dan lebih tua, kebahagiaan meningkat bersamaan dengan kegiatan melahirkan anak. Namun, orang tua yang lebih muda dan kurang berpendidikan memiliki lintasan kebahagiaan datar atau bahkan menurun. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa menundaan fertilitas dan hanya memiliki dua anak saja kini menjadi begitu umum,” tutup Margolis.


0 Response to "Usia Melahirkan dan Jumlah Anak Pengaruhi Kebahagiaan Orang Tua"

Post a Comment

Tulis Tanggapan Anda Tentang Postingan Diatas